Melanjutkan judul sebelumnya, ada usulan dari saya untuk orang tua atau murid calon mahasiswa yang masih bingung menentukan mau menjadi tipe mahasiswa apa nanti. “Apakah anak saya nanti bisa merantau/kuliah jauh dari orang tua?” Ada indikator yang menunjukkan seorang anak sudah bisa “dilepas” berkarir jauh dari orang tua. Adapun ciri-cirinya sebagai berikut:
- Anak mampu mengorganisasi dirinya dengan baik. Artinya, anak tersebut dapat beribadah secara mandiri, tidak perlu disuruh-suruh untuk melakukan shalat, tidak perlu dibangunkan ketika shalat subuh. Sebagai orang tua seyogyanya harus sama khawatir ketika anak telat shalat subuh dengan telat masuk sekolah. Anak juga mampu secara mandiri menjadwalkan diri dalam hal belajar, jadi, anak belajar karena kesadaran bukan karena disuruh orang tuanya belajar—termasuk dalam mengerjakan tugas akademik di sekolah.
- Anak sudah mampu mengelola keuangan. Seorang anak yang mampu dalam manajemen keuangan, hidupnya tidak boros dan mengetahui skala prioritas keuangan. Seorang anak mampu membuat persentase keuangan sehari-hari dalam hitungan hari, pekan, bulan, bahkan tahun. Hal ini membantu anak dalam perantauan untuk hidup sesuai dengan latar belakang keuangan dan terhindar dari utang yang tidak perlu.
- Komunikasi orang tua dengan anak terjalin dengan baik. Pertemuan dengan orang tua menjadi wadah mempererat relasi orang tua dengan anak. Jangan sampai LDR (Long Distance Relationship) antara anak dan orang tuanya malah memperburuk komunikasi orang tuanya. Hubungan komunikasi yang baik nanti sebagai gambarannya akan terjadi pola komunikasi yang baik ketika merantau. Indikasi antara orang tua-anak terjalin komunikasi yang baik ketika jauh yaitu terjadi komunikasi dua arah secara emosional, tidak hanya komunikasi ketika anak meminta uang saku saja.
Baik, demikian sekadar sedikit ide dari kami, mudah-mudahan dapat menjadi panduan orang tua dan calon mahasiswa dalam menentukan apakah ingin menjadi mahasiswa perantau atau bertempat tinggal bersama dengan orang tua.