Selamat Datang di Website Blog Budiman Prastyo

Profilling guru: refleksi ke niat awal menjadi  guru demi  orang tua

Profilling guru: refleksi ke niat awal menjadi guru demi orang tua

Budi ketika TK-SD

Saya menyelesaikan pendidikan di MI Al-Falah pada tahun 2009 setelah sebelumnya bersekolah di RA Al-Falah, dengan prestasi akademik yang stabil pada peringkat dua atau tiga di kelas. Selama bersekolah di Jakarta, saya tinggal bersama nenek dan bibi di Mampang Prapatan, sementara orang tua selalu menjenguk setiap akhir pekan, sehingga perhatian keluarga tetap saya rasakan. Pilihan bersekolah di lembaga berbasis agama menjadi keputusan keluarga agar saya berkembang secara akademik sekaligus memiliki bekal keagamaan yang kuat. Minat saya pada MIPA tumbuh sejak kecil berkat buku-buku IPA dan praktikum yang sering dibelikan orang tua, yang membuat saya gemar mencoba berbagai percobaan sederhana. Seluruh pengalaman pendidikan, lingkungan keluarga, dan kebiasaan belajar sejak dini telah membentuk saya menjadi pribadi yang tekun, memiliki dasar agama yang kokoh, dan antusias pada dunia sains.

Gambar 1. Budi ketika Taman Kanak Kanak di RA Al-Falah Jakarta

 

Budi ketika SMP

Saya diterima di MTSN 1 Jakarta melalui seleksi berlapis yang ketat—mulai dari pemeriksaan rapor, tes akademik, tes baca Al-Qur’an, hingga wawancara—yang membuat saya semakin menghargai kesempatan bersekolah di sana. Selama belajar, saya aktif dalam PMR, futsal, dan OSIS sebagai Ketua Bidang Seni, yang kemudian menumbuhkan minat saya pada desain grafis, sementara secara akademik saya lulus dengan peringkat dua di kelas. Lingkungan sekolah yang mendukung kreativitas serta pendidikan agama yang kuat memberi pengaruh besar dalam pembentukan karakter saya. Pilihan keluarga untuk menempatkan saya di sekolah berbasis agama sejak kecil sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya pendidikan iman dan akhlak pada masa kanak-kanak dan remaja. Semua pengalaman ini menjadikan masa saya di MTSN 1 Jakarta sebagai periode yang sangat bermakna dan membentuk perkembangan diri saya.

 

Melanjutkan SMA Umum, "Senang akhirnya bisa tinggal bersama orang tua..."

Dari TK-SMP saya ikut dengan nenek dan bibi di Jakarta, kemudian akhirnya saya kembali ke tempat kelahiran saya di Tangerang. Saya pertama kali tinggal satu atap bersama orang tua. Waktu yang dirindukan sebenarnya. Tahun 2013, saya menempuh pendidikan di SMAN 24 Kabupaten Tangerang, tempat minat saya pada sains—khususnya kimia—berkembang pesat sekaligus mempertajam kemampuan desain grafis sehingga saya tumbuh seimbang antara akademik dan kreativitas, hingga akhirnya lulus sebagai peringkat 1 tahun 2015. Selain aktif belajar, saya memperdalam nilai keagamaan melalui ROHIS, berinteraksi dengan lingkungan yang beragam, dan mulai meraih berbagai prestasi seperti Juara 2 Lomba Komik Manga Jabodetabek, Juara 2 Cerdas Cermat Sains-Agama, serta pencapaian di bidang seni beatbox. Lingkungan sekolah yang suportif dan pengalaman berkompetisi membangun kepercayaan diri serta ketangguhan saya, menjadikan masa SMA sebagai periode penting dalam pembentukan karakter. Seluruh prestasi dan pengalaman ini menjadi portofolio berharga yang menghantarkan saya diterima di Pendidikan Kimia UIN Walisongo Semarang melalui jalur prestasi SNMPTN 2015.

Gambar 2. Foto bersama sebelum match classmeeting tim guru melawan tim pemenang classmeeting. Kebersamaan ini yang paling berkesan bersama guru.

 

Semasa Kuliah

Kemudian, saya melanjutkan pendidikan di UIN Walisongo Semarang, mengambil jurusan Pendidikan kimia. Saya merantau dan jauh dari orang tua setelah baru saja saya merasakan satu atap bersama orang tua. Tahun 2015, saya lulus sebagai wisudawan terbaik Fakultas Sains dan Teknologi dengan IPK 3,92, hasil dari perjalanan panjang yang saya isi dengan belajar, prestasi, riset, dan aktivitas organisasi. Selama kuliah, saya meraih berbagai penghargaan seperti Juara 1 Desain Grafis Nasional, finalis lomba ilmiah, penerima dana penelitian, serta menulis di jurnal nasional, sambil aktif di berbagai organisasi seperti KAMMI, SEMA FST, Warstek, dan komunitas yang saya dirikan sendiri. Manajemen waktu yang disiplin membuat saya mampu menyeimbangkan kegiatan akademik dan organisasi, dan pengalaman ini memperkuat keyakinan saya bahwa karakter, adab, dan keberanian mengambil peluang lebih penting daripada sekadar mengejar gelar terbaik.

 

 

Gambar 3. Budi ketika mengisi kegiatan kajian di KAMMI

 

Sempat Ingin melanjutkan S2

Selesai pendidikan S1 pada Oktober 2019, saya sempat mendaftar ke jurusan Kimia, FMIPA UNDIP Semarang. Berbekal penelitian yang sampai tahap proposal, saya mendaftar S2 ke sana. Saya dinyatakan diterima. Saya dihadapkan pilihan sulit ketika itu. Beasiswa belum ada yang buka sebab masih semester genap, di samping itu juga saya tidak memegang uang dan tidak mau membebani orang tua. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjadi guru. Qadarullah, ada status whatsapp teman semasa SMA saya yang mengajar di SMPIT Latansa Cendekia menginformasikan bahwa ada rekrutmen guru Kimia di SMAIT Latansa Cendekia. Kesempatan itu saya ambil dan hingga kini saya menjadi seorang guru kimia di SMAIT Latansa Cendekia. Saya mensyukuri itu, ada keberkahan di sini.

Gambar 4. Ketika wisuda UIN Walisongo sebagai wisudawan terbaik Fakultas Sains dan Teknologi (sumber portal SKM amanat)

 

Gambar 5. Ketika Penganugerahan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Sains dan Teknologi oleh Kaprodi dan Dekan FST

 

Sempat berbohong kepada orang tua

Sebenarnya saya tidak tertarik menulis sesuatu yang dramatis, tetapi khusus di blog ini saya cobalah sedikit menceritakan sisi sedih saya. Semasa SMA dan kuliah saya sering kali berbohong kepada orang tua saya. Kebohongan itu sampai kini belum diketahui oleh kedua orang tua saya, sampai saya menulis blog ini. Pertama, ketika SMA, saya pernah berbohong ketika handphone saya hilang/jatuh di jalan. Saya mengatakan kepada orang tua saya bahwa selama 1 bulan sedang ada tugas khusus dari guru saya di sekolah, yang di mana mengharuskan hp yang saya pegang harus bertukar dengan salah satu teman. Segera saya hapus nomor saya dari kontak di hp orang tua saya, kemudian saya masukkan nomor baru saya. Selama 1 bulan itu, saya menabung dan mencari uang dari sumber penghasilan desain. Saya menawarkan ke teman-teman dan guru saya jasa desain grafis. Setelah uang itu terkumpul, saya membeli hp dengan merk dan warna yang sama seperti hp lama saya yang hilang terjatuh. Untuk urusan kepada orang tua, saya tidak ingin merepotkannya.

 

Selama kuliah saya juga sering berbohong terkait uang kiriman yang sebenarnya tidak cukup. Saya selalu berkata cukup. Saya harus irit dan mengalokasikan uang makan Rp10.000 untuk 1 hari dengan makan seadanya. Hal itu saya lakukan agar kebutuhan cukup untuk mencuci baju, beli bensin, dan kebutuhan lainnya. Jajan pun, misal membeli kebab tidak mampu dilakukan. Untuk menambal itu semua saya harus mengajar les privat kimia. Saya juga sempat menjadi admin sosmed ustadz, murabbi saya di Semarang. Alhamdulillah, kebutuhan tercukupi. Allah Selalu Hadir dalam hidup saya untuk Mencukupi itu. Pernah juga saya suatu ketika kehabisan uang karena ada pengeluaran mendadak, saya menangis sambil berkeliling Semarang Barat sambil berjalan kaki. Ya, saya menangis sambil berjalan kaki dan menggenggam sepotong roti seharga Rp2000 di tangan. Sesekali saya berhenti dan memakannya karena lelah. Saya menyadari, perjuangan saya ini harus dibayarkan dengan prestasi. Saya berazzam, orang tua saya nanti ketika wisuda harus duduk di kursi orang tua yang paling depan. Memang ada aturan orang tua wisudawan yang cumlaude/wisudawan terbaik duduk di depan. Saya beruntung, selama di Semarang saya berada di circle KAMMI yang di dalamnya kami saling menanggung. Saling membantu ketika membutuhkan, menjadi keluarga yang hangat dan selalu ada dalam segala kondisi. Untuk teman-temanku seperjuangan di Semarang, tulisan ini saya persembahkan untuk kalian. Saya merindukan berjuang bersama seperti dulu. Sekarang, kita berjuang dan berdakwah di pos kita masing-masing. Saya berada di pos pendidikan! Terima kasih, akhi!

 

Gambar 6. Berproses menjadi guru profesional dengan mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Divisi Pendidikan SIT Latansa Cendekia

Gambar 7. Menemani anak berproses mencapai prestasi. (1) Atas: Dokumentasi ketika menjuarai lomba pertama kali sebagai guru baru yang mendampingi anak cerdas cermat di Universitas Indonesia (Juara 2) pada tahun 2020; (2) Bawah: Masa pandemi covid tidak menghalangi semangat anak untuk lomba di bidang yang sama, Juara 2 pada tahun 2021 di event yang sama.