SMAIT Latansa Cendekia merupakan sekolah Islam yang berdiri pada tahun 2016 dengan visi membangun generasi yang unggul secara akademik serta kokoh dalam nilai-nilai keislaman. Sejak awal berdirinya, SMAIT Latansa Cendekia terus berupaya menata sistem pendidikan, pembelajaran, dan budaya sekolah secara bertahap dan berkelanjutan. Pada tahun 2019, sekolah ini untuk pertama kalinya mengikuti proses akreditasi dan memperoleh hasil Akreditasi B. Capaian tersebut menjadi pijakan awal sekaligus bahan refleksi untuk terus melakukan pembenahan dan peningkatan mutu di berbagai aspek.
Seiring berjalannya waktu, SMAIT Latansa Cendekia menunjukkan perkembangan yang signifikan. Pertumbuhan ini tampak dari meningkatnya kualitas pembelajaran, semakin beragamnya prestasi murid, serta meningkatnya profesionalisme guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. SMAIT Latansa Cendekia juga pernah mendapatkan program sekolah penggerak selama 2 tahun. Selanjutnya, murid tidak hanya berkembang dalam aspek akademik di sini, tetapi juga mulai menunjukkan karakter, kemandirian, dan kepercayaan diri yang lebih baik. Guru-guru pun semakin adaptif terhadap perubahan kurikulum, metode pembelajaran, dan kebutuhan peserta didik. Puncaknya, pada tahun 2025 SMAIT Latansa Cendekia kembali mengikuti akreditasi dan berhasil meraih Akreditasi A (Amat Baik), sebuah capaian yang menunjukkan peningkatan nyata dari hasil akreditasi sebelumnya.
Sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMAIT Latansa Cendekia, saya memandang capaian Akreditasi A bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan amanah dan tantangan baru yang harus dijaga serta ditingkatkan kualitasnya. Pasca akreditasi A, terdapat beberapa tantangan strategis yang perlu dihadapi ke depan agar mutu sekolah tidak stagnan, bahkan terus meningkat.
Pertama, tantangan peningkatan kualitas pembelajaran. Pembelajaran ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi harus semakin terintegrasi dengan penanaman moral dan karakter Islami. Nilai-nilai akhlakul karimah, adab dalam menuntut ilmu, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial perlu diinternalisasikan secara nyata dalam proses belajar mengajar, bukan sekadar menjadi slogan. Dengan demikian, pembelajaran menjadi sarana pembentukan insan yang berilmu sekaligus berakhlak.
Kedua, peningkatan pencapaian pemahaman dan implementasi akidah murid. Saya memandang bahwa prestasi akademik harus berjalan seimbang dengan kekuatan akidah. Oleh karena itu, capaian pada rapor Bina Pribadi Islam (BPI) diharapkan dapat meningkat hingga rata-rata Sangat Berkembang (SB), bukan hanya dalam aspek pemahaman, tetapi juga dalam pengamalan sehari-hari. Akidah yang kuat akan menjadi fondasi karakter dan pengendali perilaku murid dalam kehidupan nyata.
Ketiga, peningkatan rapor pendidikan khususnya pada aspek literasi dan numerasi murid. Saya meyakini bahwa Islam sangat menekankan pentingnya literasi dan numerasi, karena keduanya merupakan alat untuk memahami ayat-ayat kauniyah dan qauliyah, memahami dunia sekaligus mempersiapkan bekal akhirat. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi memahami makna, menganalisis, dan mengambil hikmah. Numerasi pun bukan hanya berhitung, tetapi melatih logika, ketelitian, dan kemampuan mengambil keputusan secara bijak. Oleh sebab itu, penguatan literasi dan numerasi menjadi agenda penting ke depan. Bersamaan dengan peningkatan literasi, diharapkan juga iklim belajar atau well-being murid juga meningkat sebagai daya dukung belajar.
Keempat, penguatan mekanisme skrining dan pembinaan bakat serta minat murid. Setiap murid memiliki potensi unik yang perlu dikenali sejak dini. Ke depan, diperlukan sistem skrining yang lebih terstruktur, bekerja sama dengan lembaga psikologi serta memanfaatkan platform pembelajaran yang relevan. Dengan pembinaan yang tepat, potensi murid dapat berkembang optimal dan terarah, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.
Kelima, penguatan kedisiplinan sebagai budaya sekolah. Saya percaya bahwa disiplin berada di atas motivasi. Motivasi bersifat fluktuatif, naik dan turun sesuai kondisi, sedangkan disiplin melatih konsistensi. Disiplin belajar, disiplin waktu, dan disiplin sikap akan membentuk kebiasaan positif yang pada akhirnya menumbuhkan minat belajar secara berkelanjutan. Dengan disiplin yang kuat, murid tidak hanya berprestasi sesaat, tetapi mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.
Dengan demikian, Akreditasi A yang diraih SMAIT Latansa Cendekia pada tahun 2025 merupakan amanah besar yang harus dijaga melalui kerja kolektif, refleksi berkelanjutan, dan komitmen untuk terus meningkatkan mutu pendidikan. Tantangan-tantangan ke depan inilah yang menjadi fokus pemikiran dan ikhtiar saya agar SMAIT Latansa Cendekia tetap tumbuh sebagai sekolah Islam yang unggul, berkarakter, dan relevan dengan tuntutan zaman.