Identitas Artikel
Judul: Konsep Tabayyun menurut Buya HAMKA dan Implementasinya pada Praktikum Kimia di Rumah (Studi Kasus Berita Hoaks COVID-19)
Penulis: Budiman Prastyo, Muhammad Akmal Ashari, Marhan Marhan
Jurnal: Journal of Educational Chemistry (JEC)
Volume & Nomor: Volume 2, Nomor 2, Tahun 2020
DOI: 10.21580/jec.2020.2.2.6321
Fokus Jurnal: Pendidikan kimia, termasuk integrasi nilai Islam dalam pembelajaran kimia.
Link Download:
https://journal.walisongo.ac.id/index.php/jec/article/view/6321
Review
Artikel ini membahas konsep tabayyun — yaitu verifikasi atau klarifikasi informasi — menurut Buya Hamka dan bagaimana konsep tersebut diterapkan secara praktis dalam pembelajaran kimia di rumah selama masa pandemi COVID-19. Penulis mengangkat konteks nyata: banyak berita hoaks terkait COVID-19 yang beredar, sehingga penting untuk menanamkan sikap kritis dan teliti terhadap informasi di kalangan siswa. Dengan menggunakan pendekatan ini, penelitian menggabungkan nilai religius (tabayyun dalam Islam) dengan kegiatan praktikum kimia sebagai alat pendidikan karakter sekaligus sains.
Metodologi penelitian yang dipakai adalah studi pustaka (library research) dengan sumber primer berupa tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan berbagai sumber sekunder seperti artikel jurnal, buku, dan majalah. Dari analisis tafsir Hamka atas QS. Al-Hujurat (49): 6, penulis mengidentifikasi makna tabayyun yang menekankan pentingnya tidak langsung mempercayai sebuah informasi tanpa penyelidikan lebih lanjut. Tahapan implementasi yang diusulkan melibatkan tiga fase: penerimaan berita, pelaksanaan praktikum kimia di rumah, dan evaluasi tanggapan terhadap berita setelah praktikum.
Implementasi praktikum kimia di rumah dijelaskan dengan cukup rinci sebagai strategi edukatif untuk membantu siswa melakukan verifikasi informasi. Praktikum ini tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas sains, tetapi juga sebagai refleksi moral: siswa melakukan eksperimen yang relevan untuk “menguji” aspek-aspek tertentu dari berita, lalu merenungkan hasilnya dalam konteks tabayyun. Dengan demikian, pembelajaran kimia menjadi sarana interdisipliner yang mengaitkan pemahaman ilmiah dan tanggung jawab sosial keislaman.
Secara keseluruhan, artikel ini menawarkan kontribusi yang sangat relevan dan kontekstual, terutama di era digital dan pandemi di mana hoaks menjadi tantangan besar. Kekuatan utama terletak pada integrasi nilai Islam (ajaran tabayyun) dengan praktik pedagogis sains (praktikum kimia), yang dapat memperkuat literasi ilmiah sekaligus literasi media siswa. Namun, keterbatasannya adalah sifatnya yang teoretis dan berbasis studi pustaka; penelitian lebih lanjut dengan implementasi nyata di rumah oleh siswa dan evaluasi dampak terhadap pemikiran kritis dan religius akan semakin memperkuat klaim manfaatnya.