Identitas Artikel
Judul : Stages of Islamization of Science According to Ismail Raji Al-Faruqi as Unity of Sciences Efforts and Implementation in the Practical Guidance of Chemistry
Penulis : Budiman Prastyo
Jurnal : Unnes Science Education Journal
Volume & Nomor : 7(1)
Tahun Terbit : 2018
Institusi Penulis : Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Walisongo Semarang
Penerbit : Universitas Negeri Semarang
Link Download:
https://journal.unnes.ac.id/sju/usej/article/view/21669
Review
Artikel ini membahas pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi mengenai Islamisasi ilmu pengetahuan, khususnya bagaimana konsep tersebut dapat diintegrasikan dalam penyusunan petunjuk praktikum kimia untuk peserta didik SMA. Penulis terlebih dahulu menyajikan biografi singkat Al-Faruqi serta latar sosial-politik yang membentuk pola pikir intelektualnya. Pendekatan ini membantu pembaca memahami bahwa gagasan Islamisasi sains tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berakar pada pengalaman Al-Faruqi menghadapi kolonialisme, modernisasi Barat, serta kegelisahan terhadap keterputusan umat Islam dari warisan intelektualnya sendiri. Dengan menampilkan latar tersebut, penulis berhasil memberikan konteks filosofis yang kuat sebelum memasuki pembahasan inti.
Dalam bagian pembahasan teori, artikel memaparkan empat tahapan Islamisasi ilmu menurut Al-Faruqi: penguasaan sains modern, penguasaan warisan Islam, identifikasi masalah utama umat, dan kreativitas serta inisiatif ilmiah. Penjelasan mengenai tahapan ini cukup sistematis dan didukung oleh berbagai sumber sekunder yang relevan. Penulis juga menekankan bahwa inti pemikiran Al-Faruqi adalah kesatuan ilmu (unity of sciences), yaitu keyakinan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai Tauhid. Penjelasan ini menjadi dasar argumentatif yang baik untuk menghubungkan konsep Islamisasi dengan desain praktikum kimia yang tetap rasional dan empiris, namun memiliki muatan nilai keislaman.
Artikel kemudian mengembangkan konsep tersebut ke dalam gagasan implementatif, khususnya dalam penyusunan petunjuk praktikum kimia kelas X. Pada bagian ini, penulis memberikan contoh konkrit bagaimana materi reaksi kimia—misalnya identifikasi CO₂ dalam proses pernapasan atau pembakaran—dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai religius. Pengaitan etika Islam terhadap aktivitas sehari-hari seperti larangan bernapas ke dalam wadah minum menjadi ilustrasi yang menarik karena menunjukkan bahwa pembelajaran sains dapat dihubungkan dengan ajaran moral Islam secara relevan dan kontekstual. Pendekatan ini memberikan inovasi dalam desain pembelajaran berbasis karakter dan religiusitas.
Secara keseluruhan, artikel ini memiliki kekuatan pada analisis teoritis yang mendalam dan upaya konkret untuk mengintegrasikan konsep pendidikan Islam ke dalam pembelajaran kimia. Namun demikian, artikel ini masih terbatas pada kajian literatur tanpa data empiris berupa uji coba terhadap peserta didik. Pengembangan selanjutnya dapat dilakukan dengan mengimplementasikan petunjuk praktikum yang dirancang, kemudian mengevaluasi efektivitasnya terhadap pemahaman konsep kimia sekaligus nilai-nilai religius siswa. Meski demikian, artikel ini memberikan kontribusi penting dalam wacana integrasi ilmu dan agama serta menjadi referensi bermanfaat dalam pengembangan kurikulum sains berbasis nilai-nilai Islam.