Selamat Datang di Website Blog Budiman Prastyo

Data  Perbandingan Kemampuan Literasi Negara Indonesia dan Negara Lain

Data Perbandingan Kemampuan Literasi Negara Indonesia dan Negara Lain

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa Indonesia pada PISA 2022 masih berada pada kategori rendah, dengan skor rata-rata 375,296 dan menempatkan Indonesia pada level 1c. Pada level tersebut, siswa umumnya hanya mampu menangkap informasi eksplisit dari teks sederhana tanpa dapat melakukan pemahaman dan analisis lebih mendalam. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan mutu literasi membaca sebagai dasar penting bagi proses pembelajaran dan capaian pendidikan yang lebih tinggi.

Gambar 1. Grafik literasi numerasi dan kemampuan sains di Indonesia (Sumber: PISA 2022)

Melalui analisis menggunakan metode Multivariate Adaptive Regression Splines (MARS), ditemukan bahwa variabel dukungan keluarga merupakan faktor paling signifikan dalam memengaruhi skor literasi membaca. Peningkatan indeks dukungan keluarga dapat menambah skor literasi membaca hingga 33,921 poin per siswa. Selain itu, terdapat faktor lain yang berinteraksi dengan dukungan keluarga, seperti status ekonomi-sosial-budaya, dukungan keluarga terhadap pembelajaran mandiri, ketersediaan sumber daya TIK, serta rasa ingin tahu siswa. Faktor-faktor ini secara bersamaan dapat meningkatkan atau justru melemahkan capaian literasi siswa.

Temuan tersebut menegaskan betapa pentingnya peran keluarga dalam mendukung perkembangan literasi anak. Dukungan keluarga tidak selalu berupa materi, tetapi juga berupa perhatian, pendampingan, serta pembiasaan budaya membaca di lingkungan rumah. Meskipun kondisi ekonomi memiliki pengaruh, penelitian menunjukkan bahwa pada keluarga dengan sosial-ekonomi rendah sekalipun, dukungan yang kuat tetap mampu meningkatkan capaian literasi membaca. Ini menandakan bahwa peran keluarga sangat mendasar dan tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh faktor lainnya.


Grafik perkembangan performa PISA Indonesia menggambarkan perubahan skor siswa dalam tiga bidang utama—matematika, membaca, dan sains—sejak 2003 hingga 2022. Secara umum, ketiganya menunjukkan pola fluktuatif namun cenderung stagnan pada kisaran skor rendah (350–410). Ada peningkatan dalam kurun 2009–2015, tetapi pada 2022 semua bidang mengalami penurunan signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama setelah pandemi yang berdampak pada proses belajar mengajar.

Pada aspek matematika, skor siswa Indonesia sempat naik hingga mendekati 390 poin pada 2015, kemudian menurun kembali pada 2018 dan 2022. Literasi membaca bahkan menunjukkan tren penurunan lebih jelas setelah masa puncaknya di kisaran 2009–2012. Ini menegaskan bahwa kemampuan memahami teks secara mendalam dan menghubungkan informasi masih menjadi kelemahan utama siswa Indonesia. Sementara itu, skor sains bergerak naik turun dengan performa terbaik sekitar 2015, tetapi kembali turun pada 2022. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan tantangan besar dalam mempertahankan peningkatan kompetensi siswa secara konsisten.

Jika dibandingkan dengan rata-rata negara OECD, Indonesia masih tertinggal cukup jauh. Tren pada grafik menunjukkan bahwa meski ada periode peningkatan, capaian tersebut tidak berlangsung secara berkelanjutan. Kondisi ini menuntut strategi komprehensif yang tidak hanya berfokus pada perluasan akses pendidikan, tetapi juga pada kualitas pembelajaran, penguatan literasi dan numerasi dasar, serta pemberdayaan guru dan keluarga sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan. Dengan langkah yang lebih terarah dan berkelanjutan, diharapkan tren capaian PISA Indonesia di masa depan dapat bergerak ke arah yang lebih baik.


Dalam lingkup Asia Tenggara, Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup positif, dengan sebagian besar negara mencapai tingkat melek huruf yang tinggi pada penduduk usia 15 tahun ke atas. Indonesia mencatat tingkat literasi sebesar 96,53 persen, menempati posisi kelima di kawasan tersebut. Meski bukan yang tertinggi, capaian ini menggambarkan kemajuan penting dalam akses pendidikan dasar serta kemampuan baca-tulis masyarakat Indonesia.

Brunei Darussalam berada di posisi pertama dengan tingkat literasi 99,7 persen, diikuti Vietnam dengan 98,63 persen, kemudian Singapura dengan 97,6 persen. Filipina juga berada di atas Indonesia dalam daftar ini. Artinya, beberapa negara tetangga telah lebih dahulu mencapai tingkat literasi yang hampir sempurna, memperlihatkan keberhasilan sistem pendidikan dan kebijakan mereka.

Namun demikian, Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Tingginya angka literasi secara nasional tidak sepenuhnya mencerminkan pemerataan kualitas literasi di seluruh wilayah. Beberapa daerah terpencil atau wilayah dengan akses pendidikan terbatas masih mengalami hambatan dalam pengembangan kemampuan membaca dan menulis. Oleh karena itu, strategi yang lebih inklusif diperlukan untuk memastikan semua warga memperoleh akses terhadap pendidikan yang berkualitas.

Data literasi tersebut dikumpulkan dari berbagai sumber resmi masing-masing negara dan diolah oleh Seasia. Ke depan, pemerintah Indonesia diharapkan tidak hanya meningkatkan persentase literasi secara jumlah, tetapi juga memperhatikan kualitasnya, termasuk pemahaman bacaan dan kemampuan berpikir kritis. Literasi bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga memahami, menganalisis, dan memanfaatkan informasi dalam kehidupan sehari-hari.


Jika dibandingkan secara global, Indonesia masih tergolong rendah dalam literasi dan numerasi. OECD setiap tiga tahun menyelenggarakan PISA (Programme for International Student Assessment) untuk mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa usia 15 tahun. Dalam berbagai hasil PISA, Indonesia sering berada pada posisi bawah. Pada PISA 2022, misalnya, Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 80 negara, yang menunjukkan ketertinggalan signifikan dalam kemampuan literasi siswa.

Pada aspek membaca, skor Indonesia cenderung menurun dari waktu ke waktu, meskipun telah terjadi pergantian kurikulum di sekolah. Pergantian kurikulum yang cukup sering dinilai belum memberikan dampak nyata dalam memperkuat budaya literasi. Meskipun tingkat buta huruf usia 10 tahun ke atas telah rendah—sekitar 3,18 persen menurut BPS tahun 2023—namun kemampuan memahami teks tidak berbanding lurus dengan sekadar “bisa membaca”.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar kebijakan pendidikan Indonesia memberi perhatian lebih pada penguatan peran keluarga. Program literasi perlu melibatkan orang tua melalui edukasi, pelatihan, dan kolaborasi dengan sekolah. Selain itu, akses TIK yang memadai serta sumber belajar murah atau gratis bagi keluarga berpenghasilan rendah juga penting diperluas. Dengan peran keluarga yang optimal dan fasilitas belajar yang menunjang, diharapkan literasi membaca siswa Indonesia dapat meningkat signifikan dan mendukung pencapaian pendidikan bermutu sebagaimana ditargetkan dalam SDGs.

Literasi sejati bukan hanya kemampuan membaca kata-kata, tetapi juga kemampuan memahami, mengevaluasi, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan baru. Aktivitas seperti menonton berita, mendengarkan podcast edukatif, hingga menyampaikan hasil diskusi di kelas juga merupakan bagian dari literasi. Pendekatan ini memperluas makna literasi menjadi lebih inklusif, tidak hanya bergantung pada buku teks, tetapi juga media dan keterampilan berpikir kritis.

Penulis mengajak agar Indonesia segera memperkuat fondasi literasi di sekolah, terutama melalui kebijakan kurikulum yang stabil dan lingkungan sekolah yang mendukung. Bila struktur pendidikan tidak mantap dan kurikulum sering berubah, maka upaya peningkatan literasi siswa akan sulit tercapai secara maksimal. Dengan penguatan yang tepat, generasi mendatang dapat lebih siap menghadapi tuntutan zaman yang sangat bergantung pada kemampuan memahami dan mengkritisi informasi.

Saya teringat pada ceramah seorang murid setelah selesai salat zuhur berjamaah di sekolah. Ia bertanya, “mengapa negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim justru kalah dalam kemampuan literasi dibanding negara non-Muslim? Padahal wahyu pertama bagi umat Islam adalah perintah ‘membaca’.” Hal tersebut semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa Al-Qur’an diturunkan sesuai dengan kebutuhan zaman dan akan tetap relevan hingga akhir masa. Persoalan utama yang dihadapi manusia hingga hari kiamat kelak tetap berkisar pada isu “literasi”. Dengan demikian, Al-Qur’an akan senantiasa relevan dengan perkembangan zaman melalui pesan literasinya.

Sumber:

Amelia, D., Arafah, N. Q. B., Diaprina, S. R., & Maromy, T. C. (2024). Variabel yang memengaruhi kemampuan literasi membaca siswa Indonesia: Analisis berdasarkan pendekatan MARS. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan9(2), 205-217.

OECD. (2023). PISA 2022 results (Volume I): The state of learning and equity in education. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/53f23881-en

https://data.goodstats.id/statistic/tingkat-literasi-di-asia-tenggara-indonesia-masuk-nomor-lima-xUn6F 

https://www.kompasiana.com/faiszatunnisak/67467f44ed64153d745c9af2/hasil-pisa-minimnya-kemampuan-literasi-siswa-indonesia