Doa orang tua itu “Ajaib”
Tulisan ini pernah saya buat dalam postingan akun Instagram pada 4 Juni 2020 dengan judul postingan “Doa Orangtua yang Tak Pernah Putus”
Sejak kecil, saya selalu merasa doa ibu punya kekuatan luar biasa. Doa-doanya sering terkabul, meski kadang sulit diterima logika—apalagi untuk saya yang berpikir cukup empiris.
Saya termasuk anak yang lama menjalani “LDR” dengan orangtua. Sejak TK, SD, SMP, hingga kuliah di Semarang, jarak memisahkan kami. Komunikasi pun sederhana, hanya lewat SMS. Kami saling berkirim doa lewat pesan singkat. Jujur, saya iri sekaligus kagum dengan teman-teman yang bisa video call dengan orangtuanya, kirim foto, atau sekadar bercakap lewat WhatsApp. Orangtua saya hanya mengandalkan SMS, tapi doa mereka selalu tersampaikan dengan tulus.
Saya yakin, doa orangtua saya untuk saya jumlahnya jauh lebih banyak dari dugaan saya sendiri. Doa yang sederhana, misalnya: “Semoga dapat ranking 1 ya…” Dalam hati, saya sempat berpikir, “Ah, mana mungkin di kuliah ada sistem ranking seperti di sekolah?” Apalagi, saat SD dan SMP, saya tidak pernah meraih ranking 1. Hanya sekali, di semester terakhir SMA, itu pun rasanya lebih seperti “bonus” sebelum lulus.
Namun ternyata, saya salah. Di bangku kuliah tiap semester memang tidak ada sistem ranking seperti di sekolah, tapi ada sistem penilaian IP (Indeks Prestasi) kemudian diakumulasikan menjadi IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) di semester akhir. Ini yang menjadi “ranking” untuk menentukan wisudawan terbaik berdasarkan hasil IPK saat kelulusan. Saya baru tahu sekitar semester 6, setelah mendengar cerita senior yang jadi mahasiswa terbaik karena IPK-nya tertinggi di jurusannya.
Sejak semester 1 sebenarnya saya sudah serius mengikuti setiap mata kuliah dan berusaha memberikan yang terbaik. Jujur, saya tidak pernah menargetkan IP tertentu. Saya hanya belajar dengan niat menjalani kewajiban (ibadah). Anehnya, setelah saya flashback, IP dari semester 1 sampai 5 ternyata cukup bagus, bahkan lumayan tinggi. Alhamdulillah, saya mendapatkan predikat sebagai wisudawan terbaik (IPK 3,92) mewakili Fakultas Sains dan Teknologi pada wisuda UIN Walisongo Semarang tahun 2019.
Di titik itu saya sadar, doa orangtua bekerja dengan cara yang tidak selalu kita pahami. Kadang doa mereka sederhana, tapi dampaknya besar. Saya mungkin tidak pernah terlalu fokus mengejar “angka”, namun doa ibu dan bapak membuat langkah saya lebih ringan, hasil belajar lebih berkah, dan perjalanan kuliah saya berjalan jauh lebih baik dari yang saya bayangkan.
Doa orangtua memang tak selalu terucap di depan kita, tapi ia selalu mengiringi setiap langkah. Seringkali, doa itu terkabul dengan cara yang tak kita sangka.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian (safar) dan doa baik orang tua pada anaknya.” (HR. Ibnu Majah no. 3862. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Ridha Allah bergantung pada restu orang tua
Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Umar ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya,’” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
Sumber:
https://www.nu.or.id/tasawuf-akhlak/9-hadits-tentang-keutamaan-berbakti-pada-orang-tua-KrRhi
https://rumaysho.com/1711-doa-orang-tua-pada-anaknya-doa-mustajab.html