Selamat Datang di Website Blog Budiman Prastyo

Karakter atau Adab?

Karakter atau Adab?

Karakter atau Adab?

 

Sebelumnya pembahasan, mari kita tonton video perbedaan KRL di Indinesia zaman dahulu vs zaman sekarang!  https://www.youtube.com/shorts/MJX-QCOme7A 

 

Setelah pembaca menonton video tersebut, perkenankan penulis sebagai kalangan Gen Z berbagi pengalaman, yakni sudah merasakan masa kecil di dunia kereta api yang saat itu masih ‘kelam’. Dahulu saya bersaksi bahwa KRL sangat semrawut. Ketika itu banyak penumpang gelap (tidak memiliki tiket) karena memanjat pagar pembatas stasiun. Banyak penumpang juga menaiki atap kereta, tidak sedikit saya menyaksikan kejadian meninggalnya penumpang karena tersengat Listrik kereta atau terjatuh dari atap kereta. Budaya berjalan lalu lalang pedagang ataupun penumpang di rel juga menjadi pemandangan yang sudah tidak asing lagi. Suasana tidak nyaman ditambah dengan keadaan di dalam kereta yang kotor, panas, dan bau sebab tidak ada peraturan tegas penjual pedagang kaki lima di KRL. Kerap saya juga melihat hewan ternak masuk ke KRL dan gerbong penuh vandalisme. Ingatan itu masih membekas di memori saya dari saya TK hingga sudah dewasa sekarang.

Pemerintah bukan tanpa intervensi apapun, mereka juga sudah berusaha menertibkan penumpang nakal itu. Saya mengamati mulai dari penyemprotan air di atap KRL, sampai penjagaan oleh petugas keamanan. Namun, hasil belum juga berubah. Sampai di titik, perubahan besar menggunakan sistem digitalisasi dan peraturan kedisiplinan, hingga menghasilkan perubahan yang dapat kita rasakan sampai saat ini. Stasiun rapi, bebas sampah, teratur, tidak ada pengamen, dan lain sebagainya, walaupun pada awalnya mendapatkan perlawanan. Kita di sini dapat melihat, terkadang perubahan itu akan mendapatkan sebuah perlawanan, padahal perubahan itu baik.

Kita bisa melihat bahwa perubahan di sektor transportasi massal seperti KRL (Kereta Rel Listrik) bukan hanya soal infrastruktur atau operasional — tapi juga soal budaya pengguna, norma sosial dalam ruang publik, dan bagaimana sistem mempengaruhi perilaku masyarakat seharihari.

Ignasius Jonan, merupakan Menteri Perhubungan dan sebelumnya menjabat sebagai Direktur Jenderal Perkeretaapian, dikenal melakukan beberapa intervensi penting untuk memperbaiki sistem kereta di Jabodetabek. Berikut pengamatan penulis mengenai beliau:

AspekAspek Perubahan yang Terlihat

  1. Peningkatan Kedisiplinan dan Ketepatan Jadwal
    • Di masa pra Jonan, sering terjadi keterlambatan, tidak terjadinya kepastian dalam frekuensi kereta, dan penumpang sering harus menunggu lama.
    • Di masa Jonan, ada upaya memperbaiki jadwal, mempercepat headway (jarak antar kereta), sehingga interval antar kedatangan KRL lebih pendek dan lebih konsisten.
  2. Perbaikan Fasilitas dan Infrastruktur
    • Kereta yang lebih bersih, sistem pendingin, peredam kebisingan, keamanan, serta aksesibilitas (untuk difabel, pintuturun, penerangan, dll).
    • Perawatan rel dan sistem kelistrikan yang lebih baik sehingga lebih sedikit gangguan teknis.
  3. Manajemen Penumpang dan Disiplin Sosial
    • Pengaturan antrean, aturan naikturun, larangan atau pengelolaan barang bawaan, perilaku di dalam kereta (misalnya menjaga kebersihan, tidak merokok, tidak menempati area prioritas).
    • Komunikasi publik yang lebih baik, petugas di stasiun maupun dalam kereta yang memberi instruksi dan bantuan.
  4. Keamanan dan Keselamatan
    • Pengawasan lebih ketat, petugas keamanan hadir, teknologi seperti CCTV, perbaikan sistem sinyal, dan langkahlangkah untuk mencegah kecelakaan.
  5. Kondisi Sosial Penumpang
    • Di masa awal, penumpang sering kurang peduli terhadap norma dalam kereta: berdesakdesakan, sedikit antrian, banyak yang bisa mendorong atau tidak sabar saat naik/turun.
    • Setelah perubahan, ada harapan bahwa budaya penumpang mulai berubah: lebih tertib, sabar, menghormati antrean, menghargai ruang umum.

Sebagai pendidik, saya melihat perubahanperubahan ini sebagai bagian dari pendidikan sosial yang tidak formal — menggunakan ruang publik dan transportasi sebagai ‘kelas’ di mana warga belajar norma sosial, disiplin, empati, dan tanggung jawab bersama:

  • Transportasi publik yang lebih tertib bisa mengajarkan bahwa tidak semua hak pribadi bisa dijadikan alasan mengabaikan orang lain.
  • Pengalaman naik KRL yang nyaman dan teratur juga membantu mengurangi stres, meningkatkan produktivitas, dan motivasi orang untuk menggunakan transportasi umum — yang juga berdampak pendidikan moral & sosial.

Dari kacamata sosial, perubahan kondisi KRL pada video bisa dilihat sebagai refleksi dari:

  • Perubahan institusi publik: bagaimana birokrasi, kebijakan, dan pengelolaan publik bisa meningkat dengan kepemimpinan yang kuat.
  • Transformasi budaya: norma pengguna transportasi, interaksi antarpengguna di ruang publik, nilai kepedulian bersama vs kepentingan individu.
  • Kesetaraan dan akses sosial: dengan transportasi yang lebih baik, terutama KRL sebagai moda massal, orangorang dari berbagai latar belakang sosialekonomi bisa mendapat akses yang lebih baik ke tempat pekerjaan, pendidikan, layanan publik, yang pada akhirnya bisa mengurangi kesenjangan.
  • Legitimasi negara dan kepercayaan publik: jika fasilitas publik membaik, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah cenderung meningkat, yang penting dalam pembangunan sosial.

Catatan Kritis

  • Kadangkala perbaikan berskala besar dimulai dengan “gambar publik” sehingga fokus ke fasilitas yang tampak, sementara masalah struktural (seperti ketimpangan akses antar daerah, dana pemeliharaan jangka panjang, pelatihan petugas) mungkin belum tuntas.
  • Perubahan budaya sosial butuh waktu panjang: meski kereta‐nya lebih baik, tidak otomatis semua penumpang langsung mengubah perilaku (sabar, antre, tidak dorong, menjaga kebersihan) — butuh edukasi dan pembiasaan

Karakter Kereta di Jepang

Tren transportasi kereta di Jepang dan konteks global
Kereta merupakan salah satu moda transportasi paling dominan di Jepang. Data OECD menunjukkan bahwa pada 2021, sekitar 28 % dari total perjalanan penumpang (dikalikan jarak) dilakukan lewat kereta, jauh melebihi persentase di Amerika Serikat (0,25 %) maupun di Inggris (5 %). Hal ini tak lepas dari kualitas sistem perkeretaapian Jepang yang sangat menonjol — terutama lewat Shinkansen — yang juga sangat dikenal karena ketepatannya.

Seberapa tepat waktu kereta Jepang dibanding negara lain
Sebagai contoh, jalur Tokaido Shinkansen antara Tokyo dan Osaka mencatat rata-rata keterlambatan hanya 1,6 menit per kereta dalam satu layanan. Sistem kereta Jepang bahkan mendapat skor 6,8 dari 7 dalam peringkat keandalan menurut data dari Statista. Bandingkan dengan negara lain: di Jerman, hanya sekitar 62,5 % kereta jarak jauh yang datang tepat waktu; di Inggris 67,7 %; sementara Amtrak di AS saja hanya berhasil mempertahankan ketepatan sekitar 75 % dalam satu periode tertentu.

Penjadwalan yang presisi
Salah satu kunci utama adalah perencanaan jadwal yang sangat detail hingga ke detik. Di Jepang, keberangkatan dianggap tepat waktu jika terjadi dalam selisih ±15 detik dari jam yang dijadwalkan. Mayoritas kereta juga tiba hanya beberapa detik berbeda dari jadwal. Selain itu, mereka memasukkan margin waktu dalam jadwal agar jika ada gangguan kecil, arus layanan tak langsung terganggu.

Teknologi canggih dan efisiensi operasional
Kereta Jepang memakai berbagai sistem teknologi mutakhir seperti Automatic Train Control (ATC) yang memastikan jarak aman antar kereta, sistem ATOS yang memantau gerak tiap kereta secara real time, serta sistem COSMOS untuk mengelola operasi Shinkansen secara menyeluruh. Di sisi peron dan stasiun, penanda jelas untuk pintu, pembagian kelas gerbong, serta staf yang sigap membantu proses naik-turun penumpang mempercepat operasional stasiun.

Pemeliharaan teliti dan budaya yang mendukung
Kereta dan rel di Jepang dirawat secara rutin dan teliti agar potensi gangguan bisa diminimalkan. Dalam sistem Shinkansen, ada fenomena yang dikenal sebagai “Seven-Minute Miracle” — waktu yang sangat singkat untuk membersihkan dan menyiapkan kereta agar siap berangkat kembali. Staf dilatih sangat baik, menggunakan metode “pointing-and-calling” agar setiap pengecekan dijalani dengan konsentrasi tinggi. Budaya Jepang pun sangat menjunjung ketepatan dan tanggung jawab kolektif — meskipun terlambat hanya sedikit, perusahaan kereta biasanya mengeluarkan sertifikat keterlambatan sebagai bukti resmi.

Strategi mitigasi dan perbaikan kontinu
Jika kondisi tak terduga terjadi, kereta Jepang punya rencana darurat: penumpang segera diberi penjelasan, dan opsi alternatif diatur secepat mungkin. Jalur barang dan kereta penumpang juga dipisah agar kereta penumpang tidak tertahan oleh lalu lintas barang. Selain itu, sistem sudah dipersiapkan untuk menghadapi cuaca ekstrem — misalnya Shinkansen di wilayah dingin punya alat penghangat rel dan plow salju. Semua ini dilengkapi dengan analisis data terus-menerus dan usaha tak henti untuk memperbaiki celah agar ketepatan semakin optimal.

Bagaimana jika ada barang yang tertinggal di area kereta Jepang?

 

Tingkat pengembalian barang yang tertinggal dinilai relatif cukup tinggi sebab masyarakat di sana memiliki karakter yang ditanam sejak kecil yaitu “bayangkan barang yang tertinggal tersebut merupakan barang milik kita”—begitulah empati terhadap sesama yang diajarkan turun temurun di sana.

Orang di Jepang jika mengalami kehilangan/lupa/tertinggal barang bawaan, mereka langsung mendatangi “Lost & Found” (落とし物受付 otoshimono uketsuke) atau kantor informasi di stasiun. Kemudian, mereka menyampaikan detail barang (jenis, warna, ukuran, ciri khusus, nomor kursi (jika ada)), nomor gerbong, dan perkiraan waktu perjalanan.

 

Dari data yang saya peroleh ada beberapa hal yang dapat kita tiru dari karakter di perkeretaapian Jepang:

    1. Kebersihan
    2. Kedisiplinan waktu
    3. Kejujuran
    4. Etika (sopan santun, budaya antre)
    5. Literasi-numerasi (pengembangan teknologi)

Menurut KBBI, karakter Adalah tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti pada seseorang. Artinya, karakter juga dapat digambarkan sebagai nilai-nilai yang muncul pada seseorang. Bahkan, tanpa adanya aturan yang ‘memaksa’, misalkan membuang sampah sembarangan dapat denda sekian juta dollar, dan lain sebagainya. Namun, kebersihan ketika sudah menjadi karakter, tanpa adanya aturan atau motivasi eksternal pun kebersihan itu tetap dilaksanakan. Oleh sebab itu, saya kurang sepakat dengan agenda kompetisi dalam hal karakter, contohnya lomba kebersihan kelas, lomba kota sehat, lomba kedisiplinan, dan lain sebagainya. Kebersihan itu seharusnya menjadi budaya bukan muncul karena momen tertentu saja. Kita sering melihat di Sebagian tempat ketika ada perlombaan kebersihan atau penilaian kebersihan, tempat tersebut menjadi bersih. Sebaliknya, ketika penilaian itu selesai, tempat tersebut akan kembali kotor. Ada juga pemandangan yang sering kita temui, siswa rajin membaca atau belajar ketika pekan diadakannya asesmen (ujian), ketika tidak ada ujian, kembalilah mereka ke perilaku malas membaca. Jadi semakin menguatkan bahwa, Reward and Punishment termasuk motivasi eksternal menurut Kohelberg, seharusnya karakter yang baik itu dipantik dengan kesadaran internal. Bagaimana caranya? Saya sebagai pendidik juga  masih berproses (belajar).

 

Negara seperti Jepang, Korea mereka disebut berkarakter, kenapa angka bunuh diri masih tinggi?

 

Jepang kerap dipandang sebagai negara maju dengan segala kemajuan teknologinya — udara bersih, sistem transportasi tertata rapi, hingga kehidupan sosial yang terorganisir. Namun di balik citra ini, angka bunuh diri di Jepang tetap tergolong sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara maju lain. Dalam rentang Januari hingga Oktober 2020 misalnya, jumlah orang yang meninggal karena bunuh diri meningkat menjadi 20.919 orang, melebihi angka kematian akibat COVID-19 dalam periode yang sama. Lonjakan ini menunjukkan bahwa pandemi bukan hanya menyerang kesehatan fisik, tetapi juga mental masyarakat Jepang.

Salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan tingginya angka bunuh diri adalah tekanan sosial dan budaya Jepang yang kuat. Dalam budaya tradisional Jepang, bunuh diri pernah dianggap sebagai tindakan kehormatan — suatu cara untuk memulihkan harga diri. Pandangan ini masih tersisa dalam cara pandang masyarakat modern, di mana mengeluh dianggap tabu, sehingga orang lebih memilih menyimpan beban dalam diri. Ketika seseorang merasa hancur, jarang mereka terbuka meminta pertolongan.

Tak hanya orang dewasa, kelompok muda Jepang juga mengalami kenaikan tragedi bunuh diri. Pada 2020, kematian akibat bunuh diri pada mereka yang berusia di bawah 20 tahun naik sekitar 10 % dibanding tahun sebelumnya. Banyak remaja menghadapi tekanan dari bullying, konflik keluarga, kesepian, serta fenomena hikikomori — menarik diri dari pergaulan sosial — yang diperparah oleh maraknya cyberbullying dan isolasi di ruang maya. Kasus selebriti seperti Hana Kimura menjadi sorotan publik atas dampak negatif tekanan online bagi kesehatan mental.

Sebagai respons atas situasi ini, pemerintah Jepang mulai membangun kerangka kebijakan serius untuk mencegah bunuh diri. Sejak 2006, mereka meresmikan Basic Act for Suicide Prevention dan secara aktif menjalankan program edukasi, stigma-breaking, serta layanan dukungan mental di berbagai lapisan masyarakat. Pendekatan ini bersifat holistik, berupaya menggabungkan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan medis agar akses bantuan terkait depresi dan bunuh diri bisa lebih mudah dijangkau.

 

Sumber:

https://www.viva.co.id/digital/digilife/1716830-mengapa-tingkat-pengembalian-barang-temuan-di-stasiun-kereta-api-jepang-tinggi 

 

https://kumparan.com/idaayucitraseni/menguak-misteri-tingginya-angka-bunuh-diri-di-jepang-1vOc5yE1SEE