Oleh Budiman Prastyo
disampaikan pada Khutbah Idulfitri 1 Syawal 1445H/10 April 2024M
di Masjid Baiturrahman, Karawaci, Kota Tangerang, Banten
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛
فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin hafizhakumullah …
Segala puji hanya milik Allah semata. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tiada henti kita memanjatkan rasa syukur kepada Allah atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita tetap diberi kesehatan, keselamatan, serta umur yang panjang. Lebih dari itu, Allah masih menganugerahkan kepada kita nikmat iman dan Islam. Nikmat besar ini hendaknya kita wujudkan dalam bentuk peningkatan ketakwaan kepada-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).
Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk senantiasa melakukan muhasabah diri dengan memperbaiki kualitas ketakwaan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Makna ayat ini, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, adalah:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Perhatikanlah apa yang telah kalian persiapkan berupa amal saleh untuk hari kembali kalian, saat seluruh amal dihadapkan kepada Allah.”
Shalawat dan salam semoga terus tercurah kepada nabi penutup para rasul, yang dianugerahi mukjizat terbesar dan menjadi pembuka pintu surga, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, para sahabat, dan siapa saja yang mengikuti jejak salaf dengan baik hingga akhir zaman.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …
Melakukan Ketaatan sebagai Wujud Syukur
Allah Ta’ala berfirman,
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, apabila seseorang telah melaksanakan perintah Allah dengan menjalankan ketaatan, menunaikan kewajiban, menjauhi yang haram, serta menjaga batasan-batasan-Nya, maka ia termasuk golongan orang-orang yang bersyukur. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:62).
Dalam Madarij As-Salikin (1:337), Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan,
أَنَّ المَعَاصِي كُلَّهَا مِنْ نَوْعِ الكُفْرِ الأَصْغَرِ فَإِنَّهَا ضِدُّ الشُّكْرِ الَّذِي هُوَ العَمَلُ بِالطَّاعَةِ
“Seluruh maksiat termasuk bentuk kufur kecil, karena maksiat berlawanan dengan syukur. Sedangkan hakikat syukur adalah beramal dalam ketaatan.”
Beliau juga dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin (hlm. 187) menerangkan bahwa syukur memiliki tiga rukun:
[1] Meyakini bahwa nikmat itu semata-mata berasal dari Allah.
[2] Memuji Allah atas nikmat tersebut.
[3] Memanfaatkan nikmat itu untuk meraih rida Allah melalui ketaatan.
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata,
لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجدِيْد , إِنَّماَ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْد
لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوْبِ , إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْب
“Hari raya bukanlah milik orang yang sekadar mengenakan pakaian baru, tetapi milik orang yang ketaatannya semakin bertambah. Hari raya bukan untuk yang berhias dengan pakaian dan kendaraan, melainkan untuk yang diampuni dosa-dosanya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 484)
Buya Hamka pernah berpesan,
"Jika ingin melihat orang Islam maka lihatlah ketika shalat 'id, jika ingin melihat orang beriman lihatlah ketika shalat subuh."
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Tantangan Melanjutkan Ketaatan Pasca Ramadhan
Dalam meneruskan semangat Ramadhan ke sebelas bulan berikutnya, kita akan berhadapan dengan kelalaian atau ghaflah. Kelalaian ini terbagi menjadi tiga macam:
[1] Ghaflah tammah (kelalaian total)
[2] Ghaflah ‘aaridhah (kelalaian sementara pada orang saleh)
[3] Ghaflah mutakarriroh (kelalaian berulang pada orang fasik)
Jenis pertama, ghaflah tammah.
Kelalaian ini menjadikan seseorang seperti hewan ternak, hanya memikirkan makan, minum, tidur, dan kesenangan dunia. Allah berfirman,
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
“Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12). Na’udzu billahi min dzalik. Inilah bentuk kelalaian yang sempurna.
Jenis kedua, ghaflah ‘aaridhah.
Kelalaian ini bersifat sesaat, datang lalu pergi, sebagaimana yang dialami orang bertakwa. Saat tersentuh bisikan setan, ia segera ingat kepada Allah.
إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَٰٓئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيْطَٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201)
Jenis ketiga, ghaflah mutakarriroh.
Ini adalah kelalaian yang berulang-ulang pada ahli maksiat. Mereka terus-menerus lalai hingga perlu diingatkan agar kembali ke jalan yang lurus, shirothol mustaqim.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Melanjutkan Amal Kebaikan Setelah Ramadhan
Sebagai muslim, Islam tidak boleh sekadar menjadi identitas administratif. Ia harus hidup dalam jiwa, pola pikir, dan perilaku kita. Kebiasaan baik selama Ramadhan hendaknya diteruskan hingga bulan-bulan berikutnya, sampai kita kembali dipertemukan dengan Ramadhan yang akan datang.
Yang pertama, melanjutkan puasa.
Membiasakan diri dengan puasa sunnah merupakan bagian dari Living Hadis, yaitu praktik budaya masyarakat yang bersumber dari hadis Nabi dan tidak bertentangan dengan Sunnah. Di sebagian daerah dikenal tradisi “Lebaran Ketupat” atau “Bhada Kupat,” yakni berkumpul dan makan bersama setelah menunaikan puasa enam hari di bulan Syawal. Tradisi ini berbeda dengan Idulfitri karena tidak ada takbir atau shalat Id. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)
“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)
Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Puasa Ramadhan sebulan senilai sepuluh bulan, ditambah enam hari Syawal senilai dua bulan, sehingga genap seperti puasa setahun. Puasa ini tidak harus berturut-turut dan hukumnya sunnah, namun ajakan kepada kebaikan sudah bernilai pahala.
Yang kedua, menjaga shalat berjama’ah dan memakmurkan masjid.
Terutama bagi kaum laki-laki, shalat berjama’ah di masjid sangat dianjurkan. Bagi yang sudah istiqamah, semoga Allah meneguhkannya. Bagi yang belum, momentum pasca Ramadhan adalah awal yang baik untuk membiasakannya. Di masyarakat Jawa dikenal Shalat Arba’in, terinspirasi dari hadis Nabi:
مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِى جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ
“Siapa yang melaksanakan shalat karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah, tidak tertinggal takbiratul ihram bersama imam, maka dicatat baginya dua kebebasan: dari neraka dan dari kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, no. 241; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Empat puluh hari menjaga takbiratul ihram adalah tantangan besar dengan ganjaran luar biasa. Disebutkan pula kisah tentang Abu Umamah Al-Bahili yang kehilangan hartanya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa melalaikan takbiratul ihram lebih berat akibatnya daripada kehilangan harta dunia.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Jama’ah shalat dan khutbah Idulfitri yang dimuliakan Allah…
Semoga kemenangan Ramadhan dan Syawal ini menumbuhkan semangat takwa dalam diri kita. Selain puasa sunnah dan shalat berjama’ah, mari lanjutkan budaya berbagi, tolong-menolong, serta sedekah dan zakat yang telah kita biasakan.
Walaupun khatib pribadi dan para jama’ah masih memiliki banyak kekurangan dalam ibadah Ramadhan, serta mungkin banyak kesempatan yang terlewat, kita diingatkan oleh firman Allah:
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ ٢١٤
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu… Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214).
Semoga Allah senantiasa menjaga dan menaungi kita, menjauhkan dari kelalaian dan kesia-siaan hidup. Semoga doa-doa kita menguatkan langkah untuk tetap istiqamah setelah Ramadhan. Semoga Allah memanjangkan usia kita dalam iman dan amal saleh serta menganugerahkan kepada kita semua husnul khatimah.
Aquulu QauIiy Haadza… Wastaghfirullaha Liiy walakum… Fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuururrahiim…
Khutbah Kedua
اَللهُ أَكْبَرُ7x
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Doa
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
Doa untuk Palestina (Allahummanshur lil muslimiina fii Filishthiin)
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
Taqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin.
Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.