Oleh Budiman Prastyo
disampaikan di Masjid Bina'ul Akhlaq, Gang Tawakal, Karawaci, Kota Tangerang pada Jum'at, 27 Maret 2026/8 Syawal 1447H).
Khutbah Pertama
الحمدُ للهِ، نحمدُهُ ونستعينُهُ ونستغفرُهُ ونستهديه، ونعوذُ باللهِ من شرورِ أنفسِنا ومن سيِّئاتِ أعمالِنا. من يهدِهِ اللهُ فلا مُضلَّ له، ومن يُضلِل فلا هاديَ له، ومن لم يجعلِ اللهُ له نورًا فما له من نورٍ. وأشهدُ أن لا إلهَ إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أنَّ محمدًا عبدُهُ ورسولُهُ الذي أدَّى الأمانةَ، وبلَّغ الرسالةَ، ونصح الأمةَ، وجاهد في اللهِ حقَّ جهادِه. اللهم صلِّ وسلِّم وبارك على سيدِنا محمدٍ وعلى آلهِ وأصحابِه وسلِّم تسليمًا كثيرًا.
أما بعد، فيا عبادَ اللهِ أوصيكم وإيايَّ بتقوى اللهِ وطاعتِه لعلَّكم تُفلحون. قال تعالى: أعوذُ باللهِ من الشيطانِ الرجيم:
(Al-Baqarah: 183)
Para Jamaah Shalat Jumat Masjid Bina'ul Akhlaq yang Allah Rahmati
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kita baru saja meninggalkan bulan Ramadan, bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Pertanyaannya, apakah Ramadan yang telah kita lalui benar-benar diterima oleh Allah SWT?
Para ulama menyampaikan bahwa tanda diterimanya suatu amal adalah adanya perubahan menuju kebaikan setelahnya. Barang siapa yang setelah Ramadan menjadi lebih baik, maka itu pertanda kebaikan. Sebaliknya, jika seseorang kembali kepada keburukan seperti sebelum Ramadan, maka hendaknya ia khawatir amalnya tidak diterima.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Di antara tanda diterimanya Ramadan adalah:
- [1] Istiqamah dalam ibadah
Jika selama Ramadan kita rajin shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan berzikir, maka setelah Ramadan kita tetap menjaganya, walaupun tidak sebanyak sebelumnya. - [2] Meninggalkan maksiat
Ramadan melatih kita menahan diri. Maka tanda keberhasilannya adalah ketika kita semakin jauh dari dosa, baik lisan, pandangan, maupun perbuatan. - [3] Hati yang lebih lembut
Ramadan seharusnya melembutkan hati kita—lebih mudah bersedekah, lebih peduli kepada sesama, dan lebih takut kepada Allah. - [4] Semangat berbuat kebaikan
Orang yang diterima Ramadan-nya akan merasa rindu untuk terus berbuat baik, bukan justru kembali lalai.
Jamaah sekalian,
Janganlah kita menjadi seperti orang yang merobohkan bangunan yang telah susah payah dibangun. Jangan sampai amal Ramadan kita hilang karena kita kembali kepada kebiasaan buruk.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam Al-Qur’an, ketika Allah mensyariatkan puasa Ramadan, Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian la’allakum tattaqun.”
Artinya: “Agar kalian bertakwa.”
Namun, para ulama menjelaskan bahwa Allah tidak menggunakan kata “muttaqun” (orang-orang yang sudah bertakwa), melainkan menggunakan kata kerja “tattaqun” (agar kalian menjadi/berproses menuju takwa). Menggunakan fi'il mudhari' dalam bahasa Arab.
Ini mengandung makna yang sangat dalam:
1. Takwa adalah proses, bukan hasil instan
Kata tattaqun menunjukkan bahwa Ramadan adalah madrasah (tempat latihan).
Kita dilatih untuk menjadi orang bertakwa, bukan langsung sempurna menjadi muttaqin.
Artinya, jika setelah Ramadan kita masih memiliki kekurangan, itu wajar—yang penting adalah ada proses perubahan menuju kebaikan.
2. Memberi harapan, bukan vonis
Jika Allah mengatakan “muttaqun”, seolah-olah hanya orang yang sudah sempurna yang berhasil.
Namun dengan “tattaqun”, Allah membuka pintu harapan bagi semua hamba-Nya.
Siapa pun yang berusaha memperbaiki diri setelah Ramadan, maka ia sedang berada di jalan takwa.
3. Indikator keberhasilan adalah arah perubahan
Makna “tattaqun” menegaskan bahwa yang dinilai bukan kesempurnaan, tetapi arah hidup kita setelah Ramadan.
Semoga kita dapat menjadi hamba Allah yang istiqamah, bukan menjadi hamba Ramadhan saja, tetapi menjadi hamba Allah dalam semua waktu/bulan. Aamiin
باركَ اللهُ لي ولكم في القرآنِ العظيمِ، ونفعني وإيّاكم بما فيه من الآياتِ والذِّكرِ الحكيمِ. أقولُ قولي هذا وأستغفرُ اللهَ العظيمَ لي ولكم ولسائرِ المسلمينَ والمسلماتِ فاستغفِروهُ إنَّهُ هو الغفورُ الرحيمُ.
Khutbah Kedua