Oleh Budiman Prastyo
disampaikan pada Jum'at, 25 Sya'ban 1447H/13 Februari 2026M
di Masjid Sulaiman Sekolah Islam Terpadu Latansa Cendekia. Amanat (isi) pada konten khutbah ini diambil dari artikel https://budi.latansacendekia.sch.id/artikel/roastingroastingan-pak-budi-untuk-belajar. Ketika itu khutbah dihadiri oleh siswa SMA, sebagian siswa SMP serta karyawan dan guru SIT Latansa Cendekia.
Khutbah Pertama
الحمدُ للهِ الذي أمرنا بالاعتصامِ بحبلهِ، أشهدُ أن لا إلهَ إلا اللهُ وحدهُ لا شريكَ لهُ وأشهدُ أنَّ محمدًا عبدُهُ ورسولُهُ لا نبيَّ بعدهُ. اللهمَّ صلِّ على محمدٍ وعلى آلهِ وصحبِهِ ومن تبعَ هُداهُ. أمَّا بعدُ: فيا عبادَ اللهِ، أوصيكم ونفسي بتقوى اللهِ، قال اللهُ تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ١٠٢١١٩
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. اللهم صلِّ وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
أما بعد، فيا عباد الله، اتقوا الله حق التقوى
وقال تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di zaman yang penuh persaingan ini, banyak orang memiliki mimpi besar, cita-cita tinggi, dan harapan yang melangit. Namun tidak sedikit pula yang terjebak pada angan-angan tanpa kesungguhan, idealisme tanpa usaha, visi tanpa disiplin. Kita ingin hasil luar biasa, tetapi enggan menempuh proses yang luar biasa. Kita ingin mencapai puncak, tetapi malas menapaki tangga demi tangga.
Islam tidak melarang kita bermimpi tinggi. Bahkan Islam mendorong umatnya untuk menjadi yang terbaik, untuk memiliki visi, untuk bercita-cita besar. Namun Islam juga mengajarkan keseimbangan antara harapan dan ikhtiar, antara tawakal dan usaha, antara idealisme dan realitas. Sebab iman bukan hanya angan-angan, tetapi keyakinan yang dibenarkan oleh hati, diucapkan oleh lisan, dan dibuktikan dengan amal.
Maka pada kesempatan khutbah hari ini, marilah kita renungkan bersama: bagaimana menjadi hamba yang memiliki cita-cita tinggi namun tetap realistis dalam langkah, bagaimana memadukan idealisme dengan usaha nyata, serta bagaimana menjaga kesehatan jiwa dan raga dalam menghadapi tekanan kehidupan modern.
Ada sebuah ilustrasi: Ia berbicara dengan keyakinan tinggi, “Saya ini seorang idealis. Saya ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada, atau mungkin di Universitas Indonesia, atau setidaknya di Universitas Diponegoro.” Ia paham bahwa rata-rata nilai UTBK/SNBT untuk lolos ke sana kerap berada di atas 600. Ia sadar persaingannya sangat ketat. Ia mengerti ribuan siswa belajar keras setiap hari. Namun ironisnya, ia tidak pernah belajar khusus UTBK, tidak pernah mengikuti tryout, tidak pernah menilai kemampuannya sendiri. Maka pertanyaannya: cukupkah mimpi besar hanya dengan rasa percaya diri? Dapatkah nama besar kampus ditaklukkan hanya dengan niat tanpa latihan? Akankah skor 600 menghampiri seseorang yang bahkan belum pernah mencoba satu paket soal pun?
Tidakkah ganjil ketika seseorang ingin masuk kampus unggulan, tetapi enggan berlatih seperti calon mahasiswa unggulan? Bagaimana mungkin mengharap hasil luar biasa dengan usaha yang biasa saja—bahkan hampir tidak ada? Jika hari ini ia menunda belajar, menghindari tryout karena takut nilainya rendah, dan memilih kenyamanan dibanding disiplin, apakah itu idealisme atau sekadar khayalan? Dan yang lebih mendasar: apakah ia sungguh ingin masuk UGM, UI, atau UNDIP… atau hanya ingin tampak memiliki mimpi besar tanpa siap membayar harga perjuangan?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap mendengar istilah “terlalu idealis” atau “harus realistis”. Keduanya seolah berada di dua ujung yang berbeda. Idealisme sering dikaitkan dengan cita-cita tinggi dan prinsip kokoh, sedangkan realisme dianggap lebih membumi dan logis. Namun, benarkah keduanya saling bertentangan? Bagaimana psikologi, kedokteran, dan pendidikan modern melihat konsep ini?
Tulisan ini akan mengulas ketegangan sekaligus keselarasan antara idealisme dan realisme dari tiga sudut pandang keilmuan tersebut.
Perspektif Psikologi: Antara Harapan dan Penerimaan
Dalam psikologi, idealisme berkaitan erat dengan aspirasi, nilai pribadi, dan makna hidup. Individu yang idealis umumnya memiliki:
-
- Standar tinggi terhadap diri sendiri
-
- Tujuan jangka panjang yang terarah
-
- Keyakinan kuat pada prinsip atau nilai
Psikologi positif menyebut bahwa memiliki aspirasi tinggi (high aspirations) dapat meningkatkan motivasi, self-efficacy, dan daya lenting. Individu idealis cenderung lebih tekun karena bergerak atas dasar makna, bukan sekadar capaian.
Namun, idealisme yang tidak diseimbangkan dengan realitas dapat memicu:
-
- Perfeksionisme yang maladaptif
-
- Kecemasan berlebih
-
- Kekecewaan berkepanjangan
-
- Burnout
Di sinilah realisme mengambil peran. Dalam psikologi, realisme identik dengan:
-
- Acceptance (penerimaan)
-
- Penilaian objektif terhadap kemampuan dan situasi
-
- Fleksibilitas kognitif
Pendekatan seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) menekankan pentingnya berpikir realistis, bukan sekadar optimistis. Pikiran yang terlalu ideal tanpa mempertimbangkan fakta dapat melahirkan distorsi kognitif.
Idealisme memberi arah tujuan. Realisme memberi landasan. Kesehatan mental yang optimal muncul ketika seseorang mampu bermimpi tinggi sekaligus menilai kondisi secara objektif.
Perspektif Kedokteran: Dampak pada Kesehatan Fisik dan Mental
Dalam dunia kedokteran, khususnya psikosomatik dan psikiatri, keseimbangan antara idealisme dan realisme sangat berpengaruh pada kondisi biologis tubuh.
A. Idealisme dan Stres Biologis
Standar hidup yang terlalu tinggi tanpa toleransi terhadap kegagalan dapat meningkatkan:
-
- Hormon kortisol (hormon stres)
-
- Risiko gangguan kecemasan
-
- Gangguan tidur
-
- Penurunan sistem imun
Perfeksionisme ekstrem bahkan dikaitkan dengan risiko depresi dan gangguan makan pada remaja.
B. Realisme dan Regulasi Emosi
Sikap realistis membantu individu:
-
- Mengelola ekspektasi
-
- Mengurangi tekanan batin
-
- Mengatur stres secara adaptif
Dalam kedokteran preventif, regulasi stres yang baik berkontribusi pada:
-
- Kesehatan jantung
-
- Stabilitas tekanan darah
-
- Keseimbangan hormon
-
- Kualitas tidur yang lebih optimal
Namun, realisme yang berlebihan tanpa sentuhan idealisme dapat berujung pada sikap pasif, apatis, bahkan kehilangan semangat hidup.
Tubuh manusia memerlukan harapan untuk bertahan, sekaligus penerimaan agar tetap stabil. Idealisme tanpa realisme memicu tekanan; realisme tanpa idealisme memicu kemandekan.
Perspektif Pendidikan Modern: Growth Mindset sebagai Jembatan
Dalam pendidikan modern, perdebatan idealis dan realistis sering muncul dalam konteks:
-
- Pemilihan jurusan
-
- Target akademik
-
- Cita-cita karier
-
- Standar kelulusan
A. Idealisme dalam Pendidikan
Idealisme mendorong peserta didik untuk:
-
[1] Memiliki visi masa depan
-
[2] Berani bercita-cita tinggi
-
[3] Keluar dari zona nyaman
Konsep seperti vision board, perencanaan karier, dan pendidikan berbasis karakter banyak menekankan pentingnya idealisme.
B. Realisme dalam Pendidikan
Namun pendidikan modern juga menekankan:
-
[1] Evaluasi berbasis data
-
[2] Analisis potensi dan minat
-
[3] Pemetaan kemampuan akademik
-
[4] Literasi numerasi dan capaian terukur
Pendekatan seperti assessment diagnostik, tes bakat-minat, dan evaluasi portofolio merupakan wujud realisme dalam pendidikan.
C. Growth Mindset: Sintesis Idealisme dan Realisme
Sebelum Carol Dweck memperkenalkan konsep growth mindset sebagai jembatan antara idealisme dan realisme, Islam telah lebih dahulu mengenalkan konsep ihsan, yakni mengoptimalkan ikhtiar atau melakukan yang terbaik.
Growth mindset mengajarkan bahwa:
"Kita boleh memiliki cita-cita tinggi (idealis). Namun kemampuan dapat berkembang melalui proses dan usaha (realistis)"
Artinya, seseorang tidak menolak fakta tentang kemampuan saat ini, tetapi juga tidak membatasi diri pada kondisi sekarang. Pendidikan modern tidak hanya mengajarkan siswa untuk bermimpi, tetapi juga menghitung, memetakan, dan mengeksekusi secara strategis.
Idealis dan Realistis: Musuh atau Mitra?
Sering kali masyarakat memandang keduanya sebagai dua pilihan yang berlawanan:“Jangan terlalu idealis!” “Kamu terlalu realistis!”
Padahal secara ilmiah, keduanya bukan lawan, melainkan pasangan yang saling melengkapi.
Individu yang matang secara psikologis bukanlah yang meninggalkan idealismenya, melainkan yang mampu mengelolanya dalam bingkai realitas.
Menjadi Visioner yang Rasional
Di era modern yang sarat kompetisi dan tekanan sosial, kita memerlukan dua hal sekaligus:
Hati yang idealis – agar hidup memiliki makna dan visi.
Pikiran yang realistis – agar langkah terukur dan sehat.
-Sudut pandang psikologi mengajarkan keseimbangan kognitif.
-Sudut pandang kedokteran menekankan stabilitas biologis.
-Sudut pandang pendidikan modern menekankan strategi pertumbuhan.
Maka, bukan memilih antara idealis atau realistis, melainkan belajar menjadi visioner yang rasional — bermimpi setinggi langit sambil tetap berpijak di bumi. Semoga langkah kita dalam berjuang di pendidikan diridhai Allah dan diberikan jalan aamiin.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم. أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah Kedua