Hasil Asesmen Nasional 2024 pada indikator D.1 Kualitas Pembelajaran menunjukkan bahwa mutu pembelajaran di sekolah berada pada kategori Baik dengan skor 68 dan mengalami kenaikan 4,64 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menggambarkan bahwa pembelajaran sudah berjalan secara optimal, ditandai dengan suasana kelas yang kondusif, hubungan guru–siswa yang positif, serta aktivasi kognitif yang konstruktif. Kualitas ini diperkuat oleh sub-indikator manajemen kelas yang memperoleh skor 70,91, menjadi skor tertinggi dalam komponen D.1, dengan kenaikan signifikan sebesar 6,12 poin. Data tersebut menunjukkan bahwa guru mampu menjaga keteraturan kelas, menerapkan disiplin positif, serta mengelola interaksi belajar secara efektif. Dukungan psikologis kepada siswa juga berada dalam kondisi baik, tercermin dari skor 68,47 yang meningkat 3,50 poin, menandakan guru memberikan perhatian, kepedulian, dan umpan balik secara konsisten. Sementara itu, sub-indikator metode pembelajaran mencatat skor 64 dengan kenaikan 3,69 poin, menunjukkan bahwa guru sudah menerapkan instruksi adaptif dan aktivitas interaktif, namun masih memiliki ruang untuk memaksimalkan variasi metode, penguatan literasi–numerasi, dan pembelajaran berbasis kasus. Secara keseluruhan, komponen D.1 berada pada peringkat nasional 1–20%, menempatkan sekolah dalam kelompok berkinerja terbaik pada aspek kualitas proses pembelajaran.
Indikator D.2 Refleksi dan Perbaikan Pembelajaran oleh Guru menunjukkan capaian yang sangat kuat dengan skor 72,42, kategori Baik, dan peningkatan 8,98 poin, jauh lebih tinggi dibandingkan indikator D.1. Hal ini menggambarkan bahwa guru memiliki budaya refleksi yang matang dan terlibat aktif dalam memperbaiki pembelajaran. Sub-indikator belajar tentang pembelajaran mencatat kenaikan paling drastis sebesar 15,38 poin dengan skor 71,41, menunjukkan bahwa guru semakin aktif mengikuti pelatihan, mempelajari referensi pengajaran, serta mengembangkan keterampilan mengajar secara mandiri maupun kolaboratif. Komponen refleksi atas praktik mengajar bahkan memiliki skor tertinggi di seluruh indikator, yaitu 75,16, dengan kenaikan 5,91 poin, yang menandakan bahwa guru benar-benar melakukan evaluasi terhadap pembelajaran yang telah berlangsung dan melakukan perbaikan berkelanjutan. Sementara itu, penerapan praktik inovatif mencapai skor 69,89 dengan kenaikan 9,65 poin, menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran mulai berjalan kuat di kelas, sejalan dengan berbagai program sekolah seperti ADLX, pembelajaran terintegrasi literasi–numerasi, diferensiasi, dan penggunaan teknologi. Seluruh indikator D.2 juga berada pada peringkat nasional 1–20%, menegaskan bahwa budaya guru belajar, berinovasi, dan merefleksi sudah menjadi kekuatan utama sekolah.
Secara keseluruhan, data D.1 dan D.2 menggambarkan bahwa sekolah memiliki fondasi yang sangat kokoh dalam kualitas pembelajaran dan profesionalisme guru. Kualitas kelas sudah baik dan terus meningkat, sementara budaya refleksi dan perbaikan pembelajaran menunjukkan lonjakan yang sangat kuat. Dengan kondisi ini, sekolah memiliki peluang besar untuk menjadi model best practice dalam implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya dalam integrasi KSE, literasi–numerasi, pembelajaran aktif ADLX, dan karakter keislaman. Fokus pengembangan berikutnya dapat diarahkan pada peningkatan variasi metode pembelajaran dan penguatan aktivitas berpikir tingkat tinggi agar capaian di sub-indikator metode pembelajaran dapat menyamai komponen refleksi dan inovasi yang sudah sangat unggul.