Selamat Datang di Website Blog Budiman Prastyo

Kultum Shalat Subuh: Pentingnya Persepsi Moral yang Baik (Studi Kasus Survei Moral di Amerika Serika

Kultum Shalat Subuh: Pentingnya Persepsi Moral yang Baik (Studi Kasus Survei Moral di Amerika Serika

Ceramah ini mengutip mengenai sebuah survei di Amerika Serikat mengenai “Morally Acceptable” dan Pergeseran Moral. Ceramah ini disampaikan di Masjid Baiturrahman, Karawaci, Kota Tangerang pada Kultum Subuh Ahad, 8 Maret 2025M/19 Ramadhan 1447H.

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ،

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ،
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Sidang shalat subuh yang dirahmati Allah,

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah nilai moral (moral value). Secara sederhana, nilai moral adalah sesuatu yang dianggap baik, pantas, atau benar oleh masyarakat. Sesuatu disebut bermoral karena masyarakat menilainya demikian. Apa yang dianggap wajar oleh banyak orang, sering kali kemudian dianggap sebagai sesuatu yang benar.

Namun, jama’ah yang dirahmati Allah, ada satu hal penting yang perlu kita renungkan bersama. Penilaian masyarakat tidak selalu sama. Nilai moral di satu tempat bisa berbeda dengan tempat yang lain. Sesuatu yang dianggap biasa di suatu negara, bisa dianggap tabu di negara lain. Bahkan dalam perjalanan waktu, sesuatu yang dahulu dianggap salah oleh masyarakat, pada masa berikutnya bisa saja dianggap wajar.

Ini menunjukkan bahwa moral masyarakat bersifat berubah-ubah. Ia dipengaruhi oleh budaya, zaman, opini publik, bahkan oleh kekuatan media dan arus pemikiran yang berkembang.

Jama’ah sidang shalat subuh yang dirahmati Allah… Saya ingin sharing mengenai data survei di Amerika Serikat akhir-akhir ini mengenai persepsi moral di sana.

1. Gambaran Umum Survei

Lembaga riset opini publik Gallup secara berkala melakukan survei yang menanyakan kepada masyarakat:

“Terlepas dari legal atau tidak, menurut Anda apakah suatu perilaku itu secara moral dapat diterima (morally acceptable) atau salah secara moral (morally wrong)?”

Survei ini menilai berbagai isu sosial seperti hubungan seksual di luar nikah, perceraian, homoseksualitas, aborsi, euthanasia, hingga poligami. Tujuannya adalah melihat bagaimana standar moral masyarakat berubah dari waktu ke waktu. (Gallup.com)


2. Perilaku yang Kini Dianggap “Secara Moral Dapat Diterima”

Hasil survei Gallup menunjukkan bahwa banyak perilaku yang dulu dianggap tabu kini diterima secara moral oleh mayoritas masyarakat.

Beberapa contoh hasil survei terbaru:

  • - Kontrasepsi (birth control): sekitar 88–92% menganggapnya moral

  • - Perceraian (divorce): sekitar 75–81% menganggapnya moral

  • - Hubungan seksual sebelum menikah: mayoritas menganggap moral

  • - Memiliki anak di luar nikah: mayoritas menganggap moral

  • - Konsumsi ganja dan alkohol: mayoritas menganggap moral

  • - Hubungan sesama jenis: sekitar 60–70% menganggap moral pada beberapa tahun terakhir

  • - Perjudian  juga mendapat penerimaan mayoritas (Gallup.com)

Temuan ini menunjukkan bahwa batasan moral masyarakat semakin longgar, terutama dalam isu keluarga dan seksualitas.


3. Perilaku yang Masih Dianggap Tidak Bermoral

Meski banyak norma berubah, beberapa perilaku masih ditolak secara luas oleh masyarakat.

Yang paling banyak dianggap tidak bermoral antara lain:

  • - Perselingkuhan (extramarital affairs) – sekitar 89–91% menyatakan salah secara moral

  • - Kloning manusia

  • - Bunuh diri

  • - Poligami (dalam konteks Barat)

Isu-isu ini masih memiliki konsensus moral yang kuat di masyarakat. (Gallup.com)


4. Isu Moral yang Paling Memecah Masyarakat

Gallup juga menemukan beberapa isu yang sangat terpolarisasi (masyarakat hampir terbelah dua):

  • - Aborsi

  • - Euthanasia / doctor-assisted suicide

  • - Hubungan sesama jenis (dalam beberapa periode)

Contohnya, pada beberapa survei:

  • - sekitar 40–50% menganggap aborsi moral,

  • - sementara sekitar setengah lainnya menganggapnya tidak bermoral. (Live Science)

Ini menunjukkan bahwa moral publik tidak lagi memiliki konsensus yang kuat pada banyak isu fundamental.


5. Tren Besar: Pergeseran Moral Sejak Awal 2000-an

Salah satu temuan penting Gallup adalah bahwa:

pandangan moral masyarakat menjadi semakin permisif (lebih longgar).

Contohnya:

  • - Dukungan terhadap hubungan homoseksual meningkat besar sejak awal 2000-an.

  • - Penerimaan terhadap kelahiran di luar nikah dan seks sebelum menikah meningkat.

  • - Beberapa praktik yang dulu dianggap tabu kini dianggap sebagai pilihan pribadi.

Dengan kata lain, standar moral semakin bergeser dari norma kolektif menuju preferensi individu.

Survei tersebut memberikan gambaran bahwa:

  1. [1] Banyak norma moral masyarakat berubah dalam 20 tahun terakhir.

  2. [2] Perilaku yang dahulu dianggap tabu kini dianggap wajar.

  3. [3] Konsensus moral masyarakat semakin melemah.

  4. [4] Moralitas semakin dipahami sebagai pilihan pribadi, bukan aturan bersama.

Fenomena ini sering disebut sebagai “moral shift” atau pergeseran moral dalam masyarakat modern.

“Apa yang dulu dianggap salah oleh hampir semua orang, hari ini mulai dianggap biasa. Bukan karena hakikatnya berubah, tetapi karena standar moral manusialah yang bergeser.”


Saat ini pedofilia atau kekerasan seksual terhadap anak kecil (contoh kasus P Diddy atau Jeffrey Epstein) di sana masih dianggap kejahatan, kita tidak tahu 20 tahun yang akan mendatang bagaimana moral tersebut masih sama atau tidak? Apakah akan bergeser seperti halnya persepsi pada homoseksual?

hanya mengajarkan kita mengikuti penilaian manusia, tetapi mengajarkan agar kita menyandarkan nilai benar dan salah kepada Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita terhindar dari kejahatan manusia dan para makar. Aamiin. Demikian yang bisa saya sampaikan, mohon maaf apabila ada kekurangan.

وَبِاللّٰهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ