Saya mengembangkan sebuah inovasi penting yang saya beri nama Program Literasi–Numerasi Terintegrasi Mapel, sebuah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pembuatan “jadwal literasi” semata, tetapi pada integrasi kemampuan literasi dan numerasi ke dalam seluruh mata pelajaran secara nyata dan berkelanjutan. Saya menyadari bahwa literasi dan numerasi bukanlah kegiatan yang cukup dilakukan dalam satu sesi khusus, tetapi merupakan kompetensi dasar yang harus hidup di setiap pembelajaran.
Banyak sekolah selama ini hanya menjalankan literasi sebagai kegiatan terjadwal—misalnya membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai—namun tidak menjangkau esensi sesungguhnya. Padahal, literasi dan numerasi harus menjadi bagian dari proses berpikir siswa, bukan hanya rutinitas. Oleh karena itu, saya menciptakan program yang menekankan bahwa setiap guru adalah pendidik literasi dan numerasi, terlepas dari bidang keilmuannya.
Dalam program ini, setiap guru diwajibkan menerapkan minimal satu studi kasus literasi atau numerasi pada setiap pembelajaran. Studi kasus tersebut dapat berupa membaca berita relevan, menganalisis artikel ilmiah, membaca dan menafsirkan grafik, atau mengkaji fenomena sosial yang terjadi di lingkungan siswa. Melalui pendekatan ini, siswa secara alami dilatih untuk memahami informasi, menarik kesimpulan, dan memecahkan masalah berbasis data.
Integrasi literasi–numerasi ke semua mapel juga berdampak pada kualitas pembelajaran yang lebih kritis dan kontekstual. Guru tidak lagi hanya menyampaikan materi, tetapi membimbing siswa untuk mengolah informasi, memeriksa fakta, dan melihat hubungan antara konsep pelajaran dan realitas kehidupan. Pendekatan ini sekaligus meningkatkan kemampuan argumentatif, analitis, dan reflektif siswa.
Inovasi ini juga mengubah “cara mengajar” di kelas. Mata pelajaran seperti PPKn dan IPS dapat mengangkat kasus sosial dalam bentuk artikel berita, Bahasa Indonesia dapat mengembangkan pemahaman bacaan informasional, sementara Matematika atau IPA dapat memperkuat analisis grafik, tabel, dan data. Bahkan pelajaran Seni, PJOK, atau Keagamaan pun dapat memasukkan unsur literasi dan numerasi melalui instruksi berbasis teks dan penilaian berbasis data. Dengan demikian, literasi dan numerasi tidak hanya menjadi teori kebijakan, tetapi benar-benar muncul dalam praktik harian.
Melalui Program Literasi–Numerasi Terintegrasi Mapel, saya ingin menegaskan bahwa peningkatan kompetensi dasar siswa bukan hanya tugas guru tertentu, tetapi tanggung jawab semua guru. Integrasi ini menjadikan pembelajaran lebih relevan, menantang, dan bermakna. Siswa tidak sekadar menghafal, tetapi belajar memahami dunia melalui data, teks, fenomena sosial, dan wacana ilmiah. Program ini diharapkan mampu menciptakan budaya akademik yang kuat dan menghasilkan generasi yang berpikir kritis serta mampu menghadapi tantangan era informasi.