Di era media sosial, setiap proses terasa layak dipublikasikan. Target pasca SMA, target kuliah/studi, rencana bisnis, program diet, hafalan Al-Qur’an, hingga resolusi tahunan—semuanya mudah dibagikan. Kita ingin dukungan, validasi, bahkan sekadar apresiasi. Namun, pernahkah kita bertanya: apakah semua perjuangan perlu diumbar sejak awal? Apakah kamu pernah melihat orang yang berjuang kemudian dia mengumbar perjuangannya di sosmed (padahal belum tercapai), kemudian akhirnya dia gagal?
Dalam Islam, ada peringatan yang sangat relevan:
"استعينوا على قضاء حوائجكم بالكتمان، فإن كل ذي نعمة محسود"
“Mintalah bantuan untuk menyelesaikan hajat-hajat kalian dengan menyembunyikannya, karena setiap orang yang memiliki nikmat pasti ada yang hasad.”
Hadis ini bukan hanya berbicara tentang hasad, tetapi juga tentang strategi menjaga energi perjuangan.
Oversharing dan Risiko Hasad
Dalam Al-Qur’an, kisah Nabi Ya'qub dan Nabi Yusuf memberikan pelajaran mendalam.
Allah berfirman dalam QS. Yusuf: 5:
“Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, nanti mereka akan membuat makar terhadapmu.”
Di sini, Nabi Ya’qub tidak melarang menceritakan perihal mimpi kepada Nabi Yusuf. Yang beliau jaga adalah siapa yang mengetahui mimpi itu. Karena tidak semua orang mampu merespons keberhasilan atau potensi orang lain dengan hati yang bersih. Ditakutkan saudara-saudaranya yang suka iri/hasad itu tidak suka.
Hasad itu nyata. Tapi lebih dari itu, ada satu hal lain yang sering luput: dampak psikologis dari terlalu banyak menceritakan tujuan.
Oversharing Saat Berjuang: Ketika Terlalu Banyak Bicara Justru Mengurangi Daya Juang
Psikolog sosial Peter M. Gollwitzer mengembangkan teori symbolic self-completion. Intinya:
Ketika seseorang memiliki tujuan identitas (misalnya ingin menjadi dokter, penghafal Qur’an, pengusaha sukses), maka ia terdorong untuk menunjukkan simbol-simbol identitas tersebut kepada orang lain.
Masalahnya muncul ketika pengakuan sosial atas simbol itu memberikan rasa puas semu.
Contoh: Seseorang berkata, “Saya mau masuk UI.” Ia memposting foto buku belajar. Dia bercerita ke banyak orang tentang rencananya.
Ketika orang lain merespons: “Wah keren!”. “Semoga lolos ya!”. “MasyaAllah, hebat!”
Otak menerima reward sosial. Dopamin meningkat. Secara psikologis, identitas “calon mahasiswa UI” terasa sudah diakui. Padahal prosesnya belum dijalani.
Inilah yang disebut Gollwitzer sebagai efek “self-completion” simbolik: Pengakuan sosial membuat otak merasa sebagian tujuan sudah tercapai.
Akibatnya?
-
- Motivasi kerja nyata bisa menurun.
-
- Rasa urgensi berkurang.
-
- Disiplin melemah secara tidak sadar.
Oversharing: Antara Validasi dan Ilusi Keberhasilan
Mengumumkan target memang bisa memberi tekanan positif. Tapi jika dilakukan berlebihan (oversharing), dampaknya bisa:
-
[1] Menguras energi untuk impresi, bukan progres.
-
[2] Membuat fokus bergeser dari proses ke citra.
-
[3] Memberikan kepuasan instan yang mengurangi dorongan kerja keras.
Dalam konteks hadis tadi, kita bisa memahami hikmahnya lebih luas:
-
[1] Menyembunyikan rencana bukan hanya untuk menghindari hasad.
-
[2] Tapi, juga untuk "menjaga" kemurnian niat dan daya juang.
-
[3] Agar kepuasan datang dari hasil nyata, bukan dari pujian.
Intinya saya ingin berkata seperti ini, Islam mengajarkan hikmah dalam berbagi. Psikologi modern menjelaskan mekanismenya secara ilmiah.
Hadis menyarankan menyembunyikan hajat. Teori symbolic self-completion menjelaskan mengapa mengumbar tujuan bisa melemahkan aksi. Seolah-olah agama sudah mengingatkan jauh sebelum riset membuktikannya.
Lalu Haruskah Semua Disembunyikan?
Tidak.
Yang perlu dihindari adalah:
-
[1] Oversharing demi validasi.
-
[2] Mengumbar rencana tanpa kesiapan aksi.
-
[3] Mencari pengakuan lebih dari progres.
Yang dianjurkan:
-
[1] Ceritakan pada mentor, guru, orang tua.
-
[2] Minta doa orang saleh (yang masih hidup ya).
-
[3] Simpan sebagian proses sebagai “energi rahasia”.
Karena kadang, perjuangan paling kuat adalah yang paling sunyi.
Diam yang Produktif
Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri:
"Apakah saya ingin benar-benar berhasil?
Ataukah saya hanya ingin terlihat sedang menuju keberhasilan?"
Terkadang, diam bukan tanda tidak punya mimpi. Diam adalah cara menjaga mimpi agar tidak kehilangan tenaga sebelum waktunya.
Referensi:
Artikel
https://wahdah.or.id/menceritakan-adanya-nikmat-antara-maslahat-dan-mafsadat/
Wicklund, R. A., & Gollwitzer, P. M. (2013). Symbolic self completion. Routledge.
Wicklund, R. A., & Gollwitzer, P. M. (1981). Symbolic self-completion, attempted influence, and self-deprecation. Basic and applied social psychology, 2(2), 89-114.