Identitas Artikel
Judul: Skrining Fitokimia dan Analisis GC-MS dari Ekstrak Batang Punica granatum (Studi Ayat Mengenai Delima dan QS. Ali Imran [3]: 191)
Penulis: Budiman Prastyo, Akhmad Syafi’i Ma’arif, Diah Wira Pratiwi, Wirda Udaibah, dan Zainal Abidin
Prosiding: Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam dan Sains (KIIIS), Volume 3, Februari 2021
Link download:
https://sunankalijaga.org/prosiding/index.php/kiiis/article/view/725
Review
Artikel ini mengangkat topik kimia dan keislaman dengan sangat menarik, yaitu analisis kandungan metabolit sekunder pada batang pohon delima (Punica granatum) dengan latar pemikiran ayat-ayat Al-Qur’an. Penulis memulai dengan menegaskan relevansi delima dalam teks suci Islam, khususnya melalui pengaitan ayat QS. Ali Imran [3]: 191 dan ayat-ayat lain yang menyebut delima, sehingga penelitian ini bukan sekadar kajian biokimia melainkan juga refleksi keagamaan dan filosofis. Pendekatan ini menempatkan tanaman alam sebagai jembatan antara sains modern dan wahyu agama.
Dalam metodologi, penulis menggunakan ekstraksi maserasi dengan etanol pada batang delima yang dikeringkan, dilanjutkan dengan analisis fitokimia (uji kualitatif) dan instrumentasi GC-MS (Gas Chromatography–Mass Spectrometry) untuk mengidentifikasi senyawa metabolit. Secara metodis, ini adalah pendekatan yang cukup standar tetapi efektif, karena memungkinkan deteksi senyawa organik sekunder yang mungkin berkhasiat biologis. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa batang delima mengandung alkaloid, fenol, tanin, steroid, dan terpenoid, serta senyawa lain yang diidentifikasi oleh GC-MS seperti pyrrolidine, hydroxy-cholecalciferol, decaborane, dan morpholine.
Argumen teoretis artikel cukup kuat karena mengaitkan hasil penelitian kimiawi dengan nilai keislaman: penulis menyimpulkan bahwa keberadaan senyawa bioaktif di batang delima dapat dipandang sebagai manifestasi “ciptaan Allah yang tidak sia-sia,” merujuk pada ajaran bahwa alam semesta diciptakan dengan penuh kebijaksanaan (ayat kauniah). Hubungan antara fitokimia dan tafsir ayat Al-Qur’an ini memberi nilai tambah pada penelitian: bukan sekadar analisis ilmiah, tetapi juga integrasi ilmu dan agama, sesuai tema konferensi KIIIS.
Meski demikian, ada beberapa keterbatasan. Pertama, penelitian ini bersifat eksploratif tanpa uji aktivitas biologis — misalnya uji antioksidan kuantitatif, toksisitas, atau efek farmakologis lainnya — sehingga klaim potensi manfaat lebih bersifat hipotesis. Kedua, sampel yang digunakan hanya berasal dari satu lokasi (Gunungpati, Semarang), yang mungkin kurang mewakili keragaman genetik atau lingkungan tumbuh delima di tempat lain. Untuk penelitian selanjutnya, akan sangat berguna jika dilakukan studi lebih lanjut dengan uji bioaktivitas dan pengambilan sampel dari berbagai lokasi, serta pelibatan aspek etika ilmiah-islam yang lebih mendalam, misalnya analisis maqasid dan dampak sosial-ekologis eksploitasi tanaman.
Ucapan Terima kasih
Terima kasih saya ucapkan untuk jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo yang telah membiayai penelitian kami ini.