Sebagai warga Muhammadiyah, izinkan saya menuliskan refleksi dari sudut pandang saya tentang mengapa Muhammadiyah menjadi pilihan rasional sekaligus spiritual saya di masa muda hingga tua nanti.
1. Islam Berkemajuan: Menghubungkan Iman dan Modernitas
Hal pertama yang membuat saya terpikat dengan Muhammadiyah adalah spirit "Islam Berkemajuan". Sebagai Muslim, saya percaya bahwa Islam adalah agama yang shalihun likulli zaman wal makan (sesuai untuk setiap waktu dan tempat). Muhammadiyah mewujudkan hal ini secara nyata.
Saya melihat Muhammadiyah tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, melainkan berani menatap masa depan. Muhammadiyah mengajarkan saya bahwa menjadi Muslim yang taat tidak berarti harus menjauhi modernitas, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Sebaliknya, iman harus menjadi motor penggerak peradaban.
2. Rasionalitas dalam Beragama (Purifikasi dan Ijtihad)
Sebagai individu yang menghargai logika dan struktur berpikir, pendekatan Muhammadiyah terhadap agama terasa sangat klop dengan falsafah hidup saya. Muhammadiyah berdiri di atas dua pilar metodologi yang kuat:
-
(1) Purifikasi (Pemurnian): Membersihkan praktik ibadah agar sebagaimana tujuan ibadah
-
(2) Ijtihad: Membuka pintu penalaran ilmiah untuk menjawab tantangan zaman yang belum ada hukum tekstualnya di masa lalu.
Pendekatan ini membuat saya beragama dengan cerdas, modern, dan bukan ikut-ikutan (taklid).
3. Teologi QS. Al-Ma'un
Saya selalu kagum dengan kisah KH. Ahmad Dahlan yang mengulang-ulang pengajaran Surat Al-Ma'un kepada murid-muridnya bukan hanya untuk dihafal, melainkan sampai mereka mempraktikkannya dengan menyantuni anak yatim dan memberi makan orang miskin.
Bagi saya, Muhammadiyah adalah ormas yang sedikit bicara, banyak bekerja. Kesalehan di Muhammadiyah tidak berhenti di atas sajadah, melainkan turun ke jalan dalam bentuk amal usaha.
Amal Usaha Muhammadiyah (AUM):
(1) ribuan sekolah, madrasah, dan universitas unggulan bahkan fakultas kedokteran Islam terbanyak di dunia. Sampai saat ini sudah ada berdiri kampus Muhammadiyah di luar negeri.
(2) ratusan rumah sakit dan klinik yang melayani tanpa memandang latar belakang.
(3) panti asuhan dan lembaga amil zakat yang dikelola secara profesional.
Melihat imperium sosial-kemanusiaan ini, saya merasa bangga menjadi bagian dari gerakan yang menyebarkan kemaslahatan nyata bagi bangsa, bukan sekadar perdebatan retoris.

4. Kemandirian dan Tata Kelola Organisasi yang Modern
Saya memilih Muhammadiyah karena saya mengagumi sistemnya. Muhammadiyah adalah organisasi yang sistem-sentris, bukan figur-sentris. Siapa pun ketuanya, roda organisasi tetap berjalan stabil karena manajemennya yang modern, transparan, dan akuntabel. Selain itu, kemandirian finansial Muhammadiyah lewat amal usahanya membuat organisasi ini memiliki posisi tawar yang bermartabat di hadapan kekuasaan. Demikian, yang bisa saya bagikan semoga informasi ini bermanfaat. Pada dasarnya, semua umat Islam bersatu dalam perbedaan dengan kontribusinya masing-masing. Kemudian, ada yang berkontribusi dengan bergabung sebagai warga Muhammadiyah, salah satunya yaitu saya.