Selamat Datang di Website Blog Budiman Prastyo

Sedikit Lebih Berbeda “lebih baik” daripada Sedikit Lebih Baik

Sedikit Lebih Berbeda “lebih baik” daripada Sedikit Lebih Baik

Pernahkah kalian berpikir mengenai “kok dia terlalu OP (Over Power) buat dikejar ya? Kayaknya aku nggak bisa balap/kejar dia dah”. Sedikit lebih baik dalam hal mengungguli orang lain selain lebih membutuhkan energi yang banyak, juga berpeluang kecil untuk bisa sukses. Saya mendapatkan ide ini dari Komika Pandji Pragiwaksono, merupakan lulusan ITB jurusan desain produk dalam show stand up comedy-nya. “Kalau ingin lebih baik itu sekalian (yang banyak)”. Akhirnya, ada alternatif kedua yaitu jika kita tidak mampu menjadi yang sedikit lebih baik, kita bisa menjadi yang “sedikit berbeda”. Ide ini mengajarkan kita untuk menjadi orang yang memiliki “value” pembeda dari orang kebanyakan. Kita bisa lihat bagaimana orang kreatif dan inovatif dapat tetap eksis di zaman sekarang.

Dalam dunia perkuliahan dan karya, banyak mahasiswa berlomba untuk menjadi “sedikit lebih baik” dari orang lain. Mereka sibuk mengejar nilai, mengumpulkan sertifikat kosong, dan memenuhi standar yang ditetapkan kampus atau masyarakat. Namun, terkadang dalam usaha mengejar kesempurnaan itu, seseorang justru kehilangan jati dirinya. Di sinilah gagasan: sedikit lebih berbeda, lebih baik daripada sedikit lebih baik itu dapat menjadi alternatif di dunia kampus. Artinya, menjadi diri sendiri dengan cara yang unik dan autentik sering kali lebih berharga daripada sekadar mengikuti arus keseragaman yang membosankan.

Menjadi “berbeda” bukan berarti melawan aturan atau bersikap malas. Justru, perbedaan yang dimaksud adalah keberanian mengekspresikan potensi diri dengan cara yang paling jujur dan maksimal. Mahasiswa yang berani tampil beda biasanya memiliki cara pandang sendiri terhadap tugas, penelitian, atau karya yang dibuatnya. Misalnya, saat teman-temannya menulis makalah dengan gaya akademik standar, ia memilih untuk menambahkan infografis, riset lapangan, atau pendekatan kreatif yang membuat tulisannya hidup. Ketika yang lain sibuk mengejar nilai, ia fokus pada pemahaman mendalam dan penerapan nyata. Inilah bentuk “berbeda” yang bukan hanya unik, tetapi juga bernilai.

Kemandirian dalam berpikir dan bertindak menjadi kunci utama menuju kesuksesan sejati di dunia kampus. Mahasiswa yang berani berbeda tidak menunggu dosen memberi arahan untuk setiap langkahnya. Ia proaktif mencari peluang, mengikuti lomba, membuat proyek penelitian, atau bahkan membuka usaha kecil di sela kuliah. Ia tahu bahwa menjadi diri sendiri bukan berarti menolak perubahan, melainkan menyesuaikan diri dengan cara yang sesuai dengan potensi dan karakter pribadinya. Di era persaingan global seperti sekarang, keberanian untuk tampil autentik justru menjadi modal utama dalam membangun karier dan jaringan profesional.

Menjadi diri sendiri dengan maksimal berarti memadukan kejujuran, kedisiplinan, dan semangat berkarya. Mahasiswa yang demikian tidak malas, justru sangat produktif dalam versinya sendiri. Ia tidak mudah menyerah ketika gagal, karena tahu setiap kesalahan adalah bagian dari proses menjadi lebih baik — bukan menjadi “seperti orang lain,” tetapi menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Ide menjadi “lebih beda” ini juga tidak boleh dijadikan alasan untuk malas. Justru, orang yang memiliki “value” ini nantinya akan mengungguli mereka yang biasa-biasa saja.

Saya pernah melontarkan pertanyaan kepada murid-murid saya ketika di lapangan upacara Senin, “Apakah mengerjakan PR itu baik? Apakah shalat lima waktu itu baik? Apakah menaati peraturan itu baik?” Semua menjawab, “iya, baik”. Kemudian, saya tanggapi, “hal tersebut bukanlah hal yang sudah baik, good, atau excellent, melainkan itu semua adalah perbuatan yang ‘standar’”. Mengapa? Sebab mengerjakan hal-hal yang wajib itu merupakan perbuatan yang masih biasa saja atau standar. Tidak ada yang spesial dari mengerjakan perbuatan yang wajib saja, justru itu sudah menjadi hal yang sewajarnya. Jadi, intinya kita harus menaikkan penilaian “baik” mulai dari sekarang menjadi sesuatu yang lebih tinggi lagi kriterianya, menurut kemampuan masing-masing.

 

Perbuatan Standar (Biasa saja)

Perbuatan Sudah Baik (Good)

Ibadah shalat wajib (5 waktu)

Ibadah shalat wajib (5 waktu) disertai shalat sunnah rawatib (Qabliyah & Ba’diyah) atau disertai shalat berjama’ah

Mengerjakan/Mengumpulkan PR

Belajar secara terjadwal dan punya target capaian

Kuliah/Sekolah-Pulang

Kuliah dan menjadikan kegiatan di luar perkuliahan sebagai pengembangan diri/professional (hardskill & softskill)

Belajar ketika ada jadwal kuliah/sekolah saja atau belajar menjelang ujian saja

Menjadi kegiatan keilmiahan sebagai budaya sehari-hari tanpa disuruh dan dipaksa

Belajar sesuai silabus, kemudian mendapatkan nilai pelajaran

Mengimplementasikan pembelajaran menjadi sebuah penelitian

 

Jangan lupa untuk melibatkan Allah dalam setiap aktivitas kita. Ingat dalam sebuah sejarah perang salib, pasukan Islam dan non-islam ketika itu memiliki kadar ikhtiyar yang sama besarnya, tetapi umat Islam memiliki privilege yang besar yaitu pertolongan Allah. Umat Islam menang!